POV: Bumi
Dingin adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di koridor lantai empat gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik sore itu.
Cahaya lampu neon yang menggantung di langit-langit beton tampak berkedip-kedip redup, memantulkan bayangan tubuhku yang kurus di atas permukaan lantai marmer abu-abu.
Di ujung lorong, pintu kayu jati ruang sidang 401 berdiri kokoh, tertutup rapat seolah-olah ia adalah gerbang eksekusi yang sedang menunggu giliranku untuk melangkah masuk.
Aku menyandarkan punggungku pada dinding tembok yang bertekstur kasar. Kedua telapak tanganku kumasukkan ke dalam saku sweter rajut krem yang longgar—sebuah gestur putus asa untuk menyembunyikan getaran hebat yang kini sedang menyerang seluruh persendian jemariku.
Gemetar itu bukan lagi sekadar reaksi fisik karena aku merasa cemas; itu adalah jeritan dari sistem saraf pusatku yang mulai kehabisan daya penahan.
“Pertahankan peringkat satumu, Bumi. Ibu tidak membesarkan seorang pecandu yang kalah sebelum bertanding.”
Suara Ibu dari ruang tamu tadi pagi mendadak menggema kembali di dalam tengkorakku, bergesekan dengan bunyi detak jam dinding koridor yang berdentum monoton.
Setiap suku kata yang diucapkan Ibu terasa seperti paku-paku tak kasat mata yang sengaja dipukulkan ke dalam kepalaku, menuntut sebuah kesempurnaan yang tak lagi sanggup kupenuhi.
Di dalam ransel hitam yang menggelayut berat di pundakku, draf proposal metodologi penelitianku telah bersih dari laptop karena sabotase Januar.
Aku tidak memiliki apa pun untuk membela diri di dalam ruang sidang nanti. Aku kosong. Aku ringkih. Dan aku ketakutan setengah mati.
Jantungku berdegup dengan ritme yang begitu liar, menabrak dinding tulang rusuk dengan frekuensi yang sangat cepat hingga membuat dadaku terasa nyeri. Napas yang kuhirup terasa tersangkut di tengah tenggorokan, menolak untuk turun dan memberi oksigen pada paru-paruku yang kian mengempis. Pandanganku di tepian mulai mengabur, dipenuhi oleh bintik-bintik hitam kecil yang berputar-putar seperti pusaran air di tengah ruangan.