POV: Maya
Cairan pembersih kaca itu menyemprotkan aroma lemon yang tajam ke seluruh penjuru ruang tamu. Aku menggerakkan kain mikrofiber putih di tangannya dengan pola melingkar, memastikan tidak ada satu pun jejak sidik jari atau butiran debu yang tertinggal di permukaan kaca lemari pajangan.
Di dalam lemari itu, barisan kuningan berjejer rapi.
Piala kompetisi sains tingkat kota saat Bumi masih berseragam putih-biru. Piagam penghargaan siswa terbaik yang bingkainya berlapis beludru hitam. Hingga yang terbaru, sebuah plakat kristal berbentuk logo universitas dengan ukiran nama putriku: Bumi Larasati — Peraih IPK Sempurna.
Aku mundur satu langkah, melipat kedua tangan di dada sembari memandangi pantulan diriku di kaca lemari yang kini mengilat.
Senyumku mengembang tipis. Setiap sudut ruangan ini adalah saksi bisu dari malam-malam panjang yang kuhabiskan untuk bekerja lembur, mengabaikan nyeri di punggung demi memastikan Bumi tidak pernah kekurangan satu lembar buku pun. Aku tidak pernah membiarkannya menyentuh sapu, mencuci piring, atau memikirkan bagaimana tagihan listrik rumah dibayar. Tugas Bumi hanya satu: belajar dan menjadi yang terbaik.
Suara gemercik air dari arah kamar mandi lantai bawah berhenti.
Aku melirik jam dinding kayu di atas sofa ruang tamu. Pukul enam lewat lima belas menit pagi. Kereta komuter menuju kampus Bumi biasanya akan sangat padat dalam tiga puluh menit ke depan.
"Bumi?" panggilku, mengeraskan volume suara tanpa harus berteriak. "Susunya sudah Ibu siapkan di meja. Vitamin yang botol merah juga sudah Ibu taruh di samping cangkir."
Tidak ada jawaban verbal dari dalam koridor. Hanya terdengar langkah kaki yang diseret pelan, sangat samar di atas ubin keramik.