POV: Bumi
Dinding kereta komuter terasa seolah terus bergerak menyempit, menjepit tubuhku di antara aroma keringat penumpang lain dan deru mesin AC yang sekarat. Aku mencengkeram tali ransel di dadaku dengan kedua tangan, berusaha keras menahan tubuh agar tidak limbung setiap kali kereta mengerem mendadak. Namun, guncangan terbesar sebenarnya tidak terjadi di bawah kakiku. Guncangan itu ada di dalam kepalaku.
Pertahankan nilai kuis hari ini. Jangan sampai goyah.
Suara Ibu terus berdenging, memantul di antara dinding tengkorak ku seperti bola pingpong yang tidak bisa berhenti. Setiap kata yang diucapkannya tadi pagi di ruang tamu mendadak berubah menjadi monster tak kasat mata yang kini sedang mencengkeram tenggorokanku. Aku sulit bernapas. Udara di dalam gerbong ini rasanya terlalu tipis.
Saat kereta akhirnya berhenti di stasiun tujuan, aku bergegas keluar, setengah berlari membelah kerumunan mahasiswa yang memadati koridor Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Lantai marmer putih gedung fakultas yang dingin biasanya memberikan rasa tenang, tetapi tidak hari ini. Di ujung koridor, beberapa meter dari pintu ruang kelas 302, papan pengumuman digital berkedip, menampilkan daftar nama mahasiswa dengan perolehan nilai akumulatif tertinggi. Namaku ada di baris paling atas. Tepat di bawahnya, hanya selisih nol koma nol lima poin, ada nama Januar—rival terbesarku.
"Hai, Bum. Sudah siap buat kuis Prof. Januar?"
Sebuah tepukan ringan di bahu membuatku hampir melompat. Aku menoleh dengan sentakan yang terlalu kasar. Itu Citra, teman satu kelompokku untuk tugas akhir nanti. Ia menatapku dengan kening berkerut.
"Muka kamu pucat banget, Bum. Kamu sakit?" Citra mengulurkan tangan, hendak menyentuh dahi atau pipiku, persis seperti yang Ibu lakukan beberapa jam lalu.
"Aku... aku gapapa kok, Cit," potongku cepat. Suaranya terdengar asing di telingaku sendiri, sedikit bergetar dan terlalu tipis. "Cuma agak kurang tidur aja sih semalam. Membaca bab tentang teori hegemoni sampai jam tiga pagi."