POV: Maya
Bunyi nyaring dari ponsel di atas meja dapur memecah keheningan rumah. Aku meletakkan kain lap yang baru saja kugunakan untuk membersihkan sisa remah roti sarapan Bumi, lalu meraih benda pipih itu.
Nama Tante Widya berkedip di layar. Aku menarik napas, mengulas senyum di wajahku sebelum menggeser tombol hijau, seolah adik kandung suamiku itu bisa melihat ekspresiku lewat jaringan telepon.
"Halo, Assalamualaikum, Wid," sapaku dengan nada suara yang sengaja kubuat ceria dan bertenaga.
"Waalaikumsalam, Mbak Maya," suara Widya terdengar renyah dari seberang sana, berlatar belakang riuh suara klakson kendaraan yang menandakan ia sedang berada di jalan. "Duh, Mbak, maaf ya pagi-pagi sudah menelepon. Ini aku cuma mau memastikan saja, Bumi sudah fiks kan berkasnya untuk beasiswa ke Kyoto University itu? Kemarin waktu arisan keluarga besar di rumah Ibu, Mbak Maya bilang tinggal menunggu tanda tangan dekan."
Aku berjalan menuju ruang tamu, jemariku bergerak menyentuh pinggiran kayu lemari pajangan dengan gerakan ritmis. "Sudah, Wid. Semua berkas sudah lengkap masuk ke sistem universitas. Bumi tinggal mempertahankan nilai kuis dan ujian akhir di semester ini saja agar indeks prestasinya tetap di angka empat bulat."
"Luar biasa memang si Bumi itu," Widya berdecak kagum, suaranya naik satu oktav. "Mbak Maya ini benar-benar hebat mendidik anak sendirian. Kemarin di depan saudara-saudara yang lain, Ibu sampai bilang kalau Bumi itu satu-satunya cucu yang bisa mengangkat derajat keluarga kita setelah... ya, Mbak tahu sendiri kan kasus kegagalan usaha Mas dhimas dulu."