POV: Bumi
Suara detak jam dinding kayu di ruang tamu terdengar seperti ketukan palu hakim yang mengadili keterlambatanku. Setiap detiknya bergema, memecah kesunyian rumah yang selalu terasa terlalu steril setelah pukul delapan malam. Aku melangkah masuk dengan sangat perlahan, menaruh sepatu ketsku di rak dengan gerakan lambat agar tidak menimbulkan bunyi gesekan yang tidak perlu.
"Baru pulang, Bum?"
Suara Ibu terdengar dari arah dapur, disusul langkah kakinya yang mendekat ke ruang tamu. Ia masih mengenakan daster batik kesayangannya, rambutnya dicepol rapi. Matanya langsung tertuju pada tas ransel hitam yang menggelayut di pundakku, seolah mencoba menebak berapa banyak beban nilai yang kubawa pulang hari ini.
"Iya, Bu. Tadi ada kelas pengganti sampai jam lima sore, lalu mengantre busnya agak lama," jawabku sembari meletakkan tas di atas sofa. Aku memaksakan diri untuk berdiri tegak, menyembunyikan rasa lelah ekstrem yang mulai menggerogoti punggungku.
Ibu mengangguk, lalu berjalan ke arah meja makan kecil di sudut ruangan. Di sana, sebuah cangkir porselen putih sudah tersaji, mengeluarkan asap tipis dengan aroma vanilla yang familier.