Sepatu kets berwarna pink memijak genangan air, menyiprat dan menciptakan noda. Si empunya sepatu tak peduli dan terus melangkahkan kaki menuju sebuah alamat yang tertera pada kertas lusuh dalam saku mantel birunya. Tubuh rapuhnya menyibak rintik hujan yang enggan mereda, rambut panjang bergelombang hampir basah sebagian. Dinginnya malam menusuk tulang, hampir pukul dua dini hari ketika ia melirik arloji. Mantel birunya pun tak mampu melindungi lagi dari gerimis malam ini.
Udara terasa lembab, mata sembabnya yang telah melampaui berjuta tangisan mengerjap mencari sebuah papan nama di deretan toko kelontong yang berjejer rapi dengan pintu tertutup—terkunci dan berteralis. Tak ada tanda-tanda kehidupan malam ini, sepi. Bahkan anjing menggonggong pun tidak terdengar.
Wanita tersebut telah melalui masalah berat dan menguras emosi, ia setengah menggigil dan terhuyung ketika akhirnya memutuskan untuk pergi malam ini, mencari suatu alamat berdasar secarik kertas lusuh dan sebuah intuisi. Rasa lelahnya sudah penuh ketika matanya menangkap tulisan samar diterangi lampu kuning yang berjuntai di atas balkon sebuah kedai, lebih tepat di sebut sebagai rumah kopi mungil yang aesthetic. Papan nama itu bergambar cangkir kopi dan bertulis “Komunitas Luka”.