Denting jam dinding di ruang baca menunjukkan pukul dua belas malam. Sara mengernyitkan dahi, ditutupnya sampul buku dengan kesal. Bahkan tak satupun kalimat dalam buku melekat di kepala. Melongok jendela sembari menggigiti jari kuku adalah hobinya akhir-akhir ini. Menunjuk pada tanda kecemasan, ketegangan emosional.
Disapunya perlahan penglihatan terang ruang baca ini. Pada bingkai foto di dinding … ia menatap sayu, serta merta ditepisnya pikiran buruk di isi kepalanya. Pada bingkai foto itu ada gambar dirinya, Angga suaminya dan Allea putri kecil mereka yang baru saja meninggal. Allea berusia tiga tahun ketika itu, ketika tubuh mungilnya tak mampu lagi melawan virus covid di masa pandemi.
Beberapa bulan setelah kepergian Allea … nyatanya Sara masih saja tenggelam dalam rasa sesal berkepanjangan, kesedihannya membuat ia menjauh dari Angga. Bukan lantaran Sara tak menerima bahwa ini suratan takdir dari Tuhan, melainkan Sara selalu mengingat sebab Angga yang pertama kali membawa virus itu ke rumah. Menularkan pada Allea yang masih kecil dan bertubuh lemah. Seandainya saja Angga lebih waspada dan menjaga dirinya ketika masa pandemi itu menyerang.
Sepeninggal Allea, Sara amat sangat butuh perhatian, dihibur, diberi support dari suaminya, tapi pada kenyataannya ia berakhir kesepian di ruang baca ini―sendirian. Menangisi nasib tragis putrinya, juga nasib dunianya yang kini penuh kekacauan. Hari-hari Sara diliputi kegelisahan. Angga mulai sering pulang malam, sering tiba-tiba menginap di luar kota tanpa penjelasan. Sara terlalu lelah berdebat sehingga malas bertanya ini dan itu, sedangkan Angga semakin menjadi-jadi melihat respons datar dari Sara. Temperamennya selalu tinggi ketika berbicara berdua. Wajah Angga berubah masam jika mendapati Sara tidak enak badan, Angga akan langsung mendengus kesal. Sara mulai mencium bau parfum wanita di baju kotor Angga. Sering mendapati banyak cenderamata hotel tempat Angga menginap beserta pakaian dalam wanita dalam tas Angga.
Sara merasa terpuruk, bukankah seharusnya saat ini mereka berdua saling menguatkan? Tetapi tidak, Angga terlalu sibuk mencari kesenangan sendiri, sibuk mencari pembenaran bahwa ia hanya mencari angin malam untuk menghibur kesedihannya. Akh, entahlah. Sara mengembuskan napas berat, firasat Sara sangat kuat dalam hal ini. Sara merasa yang dilakukan Angga di belakangnya bukan sekadar hang out dengan teman-teman ke tempat hiburan malam. Sara merasa Angga sedang bermain cantik menutupi suatu hubungan serius dengan seseorang.
Satu bulan lalu Sara memergoki chat Angga dengan seseorang yang memanggilnya “Ayah”. Bahkan Allea dan dirinya memanggil Angga dengan sebutan “Papa”, bukan “Ayah”. Tubuh Sara bagai tersengat listrik saat itu, lunglai, lemas. Sara tidak mengungkitnya, kendati di hadapannya perilaku Angga sungguh kekanakan. Mata Sara nanar memandang Angga suaminya kerap kali bersungut-sungut ketika Sara merespons dingin rayuannya berkencan. Bukankah dia telah merasakan kebahagiaan di luar? Kenapa masih butuh aku? ucap batin Sara menahan muak.
Sungguh berat hidup Sara belakangan ini karena harus mengabaikan segala bukti yang ada, berpura-pura seolah rumah tangganya baik-baik saja. Padahal di dalam hatinya semakin mati rasa.
Mengingat Allea yang membuat Sara masih menghormati Angga. Namun, Angga tak kunjung bertobat meskipun hampir setahun kematian putrinya berlalu. Sara selalu bimbang dengan firasatnya akankah ia ungkapkan atau ditelannya sendiri. Jujur saja enggan mencari tahu kebenarannya secara gamblang. Sara sudah dapat menebak, kiranya apa yang terjadi bila terungkap semua bukti perselingkuhan Angga di depan mata. Akhirnya, sakit sendiri. Lambat laun Sara menikmati malam-malam kesepian. Bersama rak buku, juga foto wajah Allea yang tergantung di dinding.