Kaki Sara terpaku di antara pintu kedai, pria gondrong itu tersenyum seolah menyiratkan arti khusus dalam tatap mata misterius yang ditujukan pada Sara … kutahu kau akan datang. Tanpa memberi aba-aba pria itu balik badan menyuruh Sara mengikutinya memasuki kedai, sudah begitu saja? pikir Sara bertanya-tanya. Sang pria gondrong itu menoleh sejenak memberi kode dengan tangan. Tidak ada ucapan selamat datang, basa-basi sekadar bertanya kabar. Mau tidak mau, Sara hanya mengangguk-angguk mengikuti perintahnya.
“Ayo … sudah banyak yang menunggu.” Suara baritone lelaki gondrong itu membuyarkan keraguan Sara. Ini kali pertama mendengar suaranya, mengingat pertemuan di makam … mereka hanya berpapasan dan pria gondrong yang bertubuh sedikit gempal tersebut hanya berbisik ketika mengulurkan tissue yang ternyata berisi secarik kertas beralamatkan sebuah Kedai Komunitas Luka. Hingga kini Sara masih bertanya-tanya mengapa dinamakan “Komunitas Luka”, lalu mengapa lelaki itu seolah tahu apa yang telah Sara alami selama ini. Sara mengaitkan mantel birunya yang sedikit basah oleh gerimis pada kayu pengait yang seperti sengaja disediakan untuk menggantung mantel, di sebelahnya terdapat rak-rak kayu untuk menaruh sepatu, sandal dan berbagai barang, guci tua tempat penyimpan payung tergeletak di ujung rak kayu tersebut.
Jleeg … pintu menutup, pintu kayu itu amat berat, seperti sengaja didesain untuk menutup sendiri jika tak ditahan oleh seseorang pada badan pintu tersebut. Sara meluaskan pandangan, ada koridor yang terhubung di antara pintu utama dan ruang kedai yang beraroma kopi. Hmm, Sara hampir lupa dengan aroma kuat yang mengusiknya sedari tadi, hidungnya mengendus aroma kopi yang sangat pekat, memenuhi ruangan seperti membius isi kepala Sara yang teramat penat, ketegangannya memudar seketika.
Langkah kaki Sara terhenti pada ruang yang tak begitu luas, meja bar tempat meracik kopi terletak persis disebelah tangga menuju balkon, sementara pencahayaan ruangan kedai teramat minimalis, hanya berasal dari lampu kuning di sisi-sisi dinding, empat sisi kanan dan dua lagi di atas meja bar. Ruang kedai berisi tiga meja bundar dengan empat kursi pada masing-masing mejanya. Sebuah kipas berputar lambat menempel pada dinding parket kayu. Di bawahnya satu set vinyil record player mengalunkan nada musik sejenis rock opera, yang paling menjadi spotlight dari ruangan tak luas itu adalah satu buah lukisan samurai yang bergantung di dinding. Sinar lampu berwarna kuning menyorotinya dengan baik, membuat Sara dapat menangkap wajah samurai pada lukisan―murung dan sedih.