Komunitas Luka

Misserasera
Chapter #4

Gadis Berkabung

“Soyeon … Soyeon …!” panggilan itu menggema menari-nari dalam bayang semu yang melintasi kepala Soyeon. Panggilan lemah lembut ibunya saat ia kecil, berlari-larian di lapangan hijau meniup bola-bola sabun di tangannya.

Suara gelak tawa yang Soyeon rindukan. Ibunya yang sehat dan cantik. Terngiang-ngiang percakapan waktu itu … di saat musim semi berlangsung, Soyeon kecil dengan lelehan es krim di tangan … merajuk, meminta ibunya mengambilkan balon yang terbang terlepas dari jemari kecil Soyeon.

“Soyeon, apa kau tahu arti namamu?” tanya ibunya sembari memeluk Soyeon erat.

“Keindahan kecil yang memesona,” ujar Soyeon bangga, ibunya sering menceritakan hal itu, bagaimana mungkin dirinya bisa lupa.

“Tentu saja, keindahan sepertimu tidak boleh menangis, ya ..?” ibu soyeon tersenyum penuh arti.

Oh, Ibu … apa kini aku yang dewasa juga tak boleh menangis?

Soyeon menatap nanar bingkai foto yang terpampang pada altar rumah duka. Rambutnya kusut masai. Sebuah jepit berbentuk pita putih kecil menghiasi rambut di antara poni dan ujung telinga. Tubuh Soyeon begitu lemah, bersandar pada dinding kayu rumah duka, menghirup wangi bunga lily dalam-dalam. Ibunya penggemar berat bunga lily, dan sekarang Soyeon memberikan banyak sekali hiasan bunga lily di hari pemakaman sang ibu.

Seorang paman berhidung besar dengan muka merah, menggeretakkan gigi tepat di hadapan foto ibu Soyeon. Sebotol minuman dalam genggaman paman tersebut terbentur-bentur lantai akibat duduknya yang terus bergoyang, tak tenang. 

Huft, muka merahnya pasti akibat mabuk, pikir Soyeon kesal. Padahal sudah kularang untuk datang kemari.

Paman Berhidung Besar juga terlihat dilanda kesedihan. Namun, kesedihannya lebih menyerupai penyesalan yang membuat dirinya marah kepada diri sendiri. Rambutnya sangat acak-acakan, wajah bersimbah air mata dan kata-kata yang keluar dari bibirnya menceracau tak tentu arah. Lama-lama Soyeon risih dibuatnya.

“Sudah kubilangkan, kau tak perlu datang, Paman!” Akhirnya Soyeon meluncurkan kalimat penuh kesalnya.

“Kau tega sekali Soyeon, bagaimanapun yang meninggal itu istriku!” bentak Paman Berhidung Besar marah.

“Ciih, istri yang kau lalaikan!” ucap Soyeon tak kalah emosi.

“Sudahlah … apa kau ingin kita terus bertengkar di depan abu istriku?” Paman Berhidung Besar tegak berdiri di hadapan Soyeon. Kedua tangannya mengepal. Botol minuman yang sedari tadi dibenturkannya ke lantai, menggelinding mengenai lutut Soyeon yang duduk menekuk beralas bantal tipis berbentuk segi empat di lantai rumah duka. Soyeon mengambilnya―botol itu―menegakkannya di lantai, kepalanya mendongak lalu menatap tajam Paman Berhidung besar.

“Apa kau tahu? ibumu sering merasa sedih karena kita tak pernah akur!” ujar paman itu lagi. Membuat Soyeon mendengkus muak.

“Pertengkaran kita tak akan terjadi bila kau becus sedikit sebagai suami!” ucap Soyeon dengan wajah masam.

“A-apa katamu?! Kaulah yang membuatnya menderita selama ini, sepanjang hidupnya dia harus bekerja keras untuk menghidupimu, Soyeon!”

Soyeon terdiam. Perkataan Paman Berhidung Besar ada benarnya juga. Selama ini ibunya memang pandai menyembunyikan air mata kesedihan, tapi sebenarnya Soyeon pernah memergoki ibunya menulis curahan hati pada jurnal harian yang terselip di antara bumbu dapur. Jauh … jauh sekali pada waktu yang lampau, masa Soyeon masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam curahan hatinya itu, ibu Soyeon meratapi kondisinya yang harus menolak beberapa pria karena harus fokus merawat anak sambil bekerja. Tak ada pria mana pun yang mau menerima ibu Soyeon yang masih muda tetapi sudah memiliki anak itu. Oleh sebab itu ibu Soyeon hanya mengandalkan dirinya sendiri. Mereka hanya tinggal berdua dalam kurun waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Soyeon lulus SMA dan memutuskan bekerja serta tidak melanjutkan kuliah. Soyeon yang telah banyak menuai kritik dari tetangga sekitar karena diduga terlalu posesif pada ibunya, lantas memutuskan membiarkan seorang pria meminang ibunya.

Huuh, Soyeon menghela napas. Sekali lagi ditatapnya Paman Berhidung Besar, wajah pria itu serupa kepiting rebus, dengan napas memburu dan kini terlihat seperti badut yang kacau.

Sebuah keputusan yang keliru, pikir Soyeon. Seharusnya aku tidak memberikan ibuku yang cantik dan lembut pada pria seperti badut itu. 

Empat tahun lalu, yang Soyeon tahu … pria itu―Paman Berhidung Besar―bekerja sebagai koki di restoran bulgogi yang terkenal di Seoul. Mereka bertemu karena bekerja di restoran yang sama dan akhirnya saling jatuh cinta. Soyeon mengira, pria berwajah tidak tampan seperti Paman Berhidung Besar akan sangat menghargai ibunya yang cantik dan tidak akan berani macam-macam. Memang di awal pernikahan, mereka terlihat harmonis juga saling menyayangi. Hal tersebut membuat Soyeon merasa harus berpindah flat sebab tak ingin menganggu rumah tangga baru ibunya. Sebuah keputusan ke dua yang kemudian Soyeon sesali. Paman tersebut tidak sebaik yang Soyeon kira. Ia sangat pencemburu. Sering menggerutu dan marah tiba-tiba. Terlebih ketika akhirnya ia mengetahui bahwa ayah kandung Soyeon masih hidup dan sering muncul di layar kaca sebagai aktor terkenal saat ini. Sebenarnya Soyeon juga mengetahui siapa ayah kandungnya. Ibunya tak dapat menyembunyikan binar mata bahagianya ketika wajah bintang hallyu itu muncul pada layar kaca. 

Mungkin itulah yang membuat paman itu marah, ya, pikir Soyeon pada saat itu. Ayah kandungnya seorang aktor yang amat tampan. Namun, mendengar kisah masa lalu dibalik riwayat kelahiran Soyeon, membuat harga diri Soyeon terluka. Bibi tetangga menceritakan segalanya. Bahwa pada malam kelahiran Soyeon, aktor tampan kekasih ibunya itu justru membawa sekoper uang dan menyuruh ibu Soyeon pergi jauh ke luar negeri untuk menyembunyikan kehamilannya. Nenek Soyeon yang saat itu masih hidup, sangat kalap dan langsung mengusir aktor tersebut menggunakan sapu lidi. Bibi tetangga menirukan kalimat yang dikatakan nenek, berulang kali pada Soyeon, agar Soyeon mengerti betapa sakitnya penghinaan yang nenek dan ibunya rasakan. Kalimat itu adalah-

“Pergi bawa uangmu! Jangan sekali-kali kau munculkan wajahmu di dekat kami! Kami tak butuh uangmu, tak perlu khawatir cucuku yang akan terlahir ini tak akan pernah menyebut namamu!!!” Itulah yang dikatakan nenek malam itu.

Kalimat yang membuat nyali ayah Soyeon menciut dan hengkang dari kehidupan ibu Soyeon selama-lamanya.

Bibi tetangga dan nenek membantu ibu melahirkan malam itu, membawa ke klinik sederhana dan merahasiakan selama bertahun-tahun nama ayah biologis dari bayi kecil mungil yang cantik dan diberi nama “Soyeon”. 

Nenek Soyeon dengan sigap mengganti remote televisi bila wajah bintang hallyu itu muncul dan membuat hati ibu Soyeon merindukannya. Ibu Soyeon tak pernah membenci pria tersebut dan itu menyiksa batinnya sedikit demi sedikit. Meskipun tak dapat meneruskan pendidikannya karena putus sekolah saat hamil di usia wajib belajar … ibu Soyeon tetap merawat Soyeon dengan penuh cinta, ia bekerja siang malam untuk menghidupi Soyeon. Setelah nenek meninggal di usia Soyeon sembilan tahun … tak ada lagi yang menghentikan lagi kebiasaan ibu Soyeon yang meratapi layar kaca ketika kekasih hatinya itu muncul mengerlingkan mata pada iklan produk minuman bersoda.

Mungkin ini yang dinamakan darah lebih kental daripada air, kendati memutuskan hubungan … wajah Soyeon terlihat jelas mirip dengan ‘sang aktor’. Bibi tetangga mengatakan, untung saja Soyeon terlahir sebagai perempuan sebab bila lelaki, sungguh teramat sulit untuk menyangkal dari masyarakat yang menjadi curiga.

Hari-hari sekolah Soyeon begitu berat karena harus menyembunyikan identitas dirinya. Belum lagi hinaan yang diterima sebagai anak haram kerap berdengung di telinganya. Hal itu tak lebih menyakitkan daripada menyaksikan kecantikan ibunya yang lambat laun memudar. Memiliki kantung mata dan wajah berkalang derita. Sang aktor tak pernah datang menemui, mungkin ia takut pada nenek dan mengira nenek masih hidup. Tetapi, dalam hati Soyeon merasa tidak terima, bukankah kondisi ibu, nenek dan Soyeon sendiri yang penuh dengan hinaan dan pandangan merendahkan orang-orang akibat dari tindakan pecundang seorang aktor hallyu yang terlalu takut karier bintangnya akan hancur? Baiknya ibu Soyeon selalu melindungi nama baik aktor tersebut, dan menelan sendiri kepahitannya selama ini.

Mungkin alasan itulah, Soyeon diam-diam merasa trauma dengan lelaki tampan. Soyeon hanya mau pergi berkencan dengan lelaki berwajah pas-pasan, alasannya takut bila memiliki pacar tampan akan bernasib sama seperti ibunya. Tidak mungkin akan menjadi prioritas dan pasti akan ditinggalkan jika para lelaki tampan itu ditawari agensi idol untuk melakukan debut keartisan.

Mungkin sebab itu juga, Soyeon memilih mengizinkan Paman Berhidung Besar untuk menikahi ibunya. Keputusan yang saat ini disesali dalam hidup Soyeon. Terlebih ternyata, baik Soyeon dan ibunya yang akhirnya melabuhkan pilihan pada pria berwajah pas-pasan … tidak membuat mereka hidup dalam ketenangan. Bila memang karakter orangnya tidak setia tetap saja ia akan mendua walaupun berpasangan dengan wanita cantik. 

Bangsatnya seorang lelaki tidak terletak pada wajah, tetapi karakternya dari lahir. Itulah pikiran Soyeon kemudian.

Lihat selengkapnya