Komunitas Luka

Misserasera
Chapter #5

Pendengar Hati yang Luka

Perjalanan kehidupan layaknya jalan membentang, gelap dan terang berkesinambungan. Logika memainkan perasaan, adakalanya pahit dan terkadang manis. Memang tidak semua peristiwa dapat tecerna bebas. Beberapa masih terselubung misteri. Seperti hubungan antara manusia yang dapat berubah setiap waktu.

Pria itu, Lucas. Kembali membawakan kopi yang baru diseduhnya menuju meja tiga wanita yang duduk merenung sembari bertanya-tanya apa maksud Lucas mengumpulkan mereka satu per satu. Lucas memberikan senyum menenangkan. Memberikan secangkir kopi panas yang masih mengepulkan asapnya kepada Sara.

“Apa aku yang terakhir?” tanya Sara memastikan.

“Bisa ya, bisa juga tidak!” jawab Lucas di luar dugaan. Ketiga wanita di meja terperanjat.

“Jadi bukan hanya kami yang kau beri alamat kedai?” Sara kembali bertanya.

Lucas terkekeh. Sara siap membuka mulut, tapi ditahannya. Bisa saja Lucas mengira Sara yang paling cerewet, kedua wanita sebelumnya tidak banyak bicara atau sebelumnya mereka bertiga telah melalui percakapan intens sebelum kedatangan Sara.

“Waktu kedatangan, masing-masing dari kalian hanya selisih dua menit. Jadi belum ada pembicaraan apa pun,” jelas Lucas seolah menjawab ungkapan dalam hati Sara.

Bagaimana dia tahu, apa yang kupikirkan?? Sara masih belum puas dengan penjelasan Lucas. Ekor matanya melirik dua cangkir kopi lainnya yang masih sama mengepulnya dengan cangkir kopi milik Sara. Pikirannya mengelana, mengutak-atik hitungan matematika tanpa disadari. Begitu cepatnya pria gondrong ini menyiapkan kopi, gumam batin Sara. Dua menit untuk setiap cangkir kopi. Mustahil, dilakukan orang normal. Perlu waktu untuk menjarang air, menggiling biji kopi, menyiapkan perkakas cantiknya. Teko dan coffe cup terbuat dari keramik itu memang terlihat cantik dan elegan. Sara tadi sempat memindai, benda-benda yang terdapat pada meja bar milik Lucas. Perkakas kayu dan logam terletak terpisah. Piring-piring besar bergambar kincir angin tertempel di dinding kedai. Mengingatkan Sara pada dekorasi ‘rumah nenek’ pada kota Amsterdam. Lalu Sara seperti teringat sesuatu, hal yang sama yang menggelitik rasa penasarannya.

Mata Sara tertumbuk pada gadis dengan pakaian berkabung bergaya era Joseon, akh tidak … tidak, selama ini Sara memang lebih sering melihat wanita memakai hanbok dalam drama korea era kerajaan Joseon. Tapi sepertinya tradisi mengenakan hanbok pada peristiwa-peristiwa tertentu, biasa terjadi, sebagaimana tradisi Sara untuk berkebaya di acara tertentu.

“Siapa namamu?” tanya Sara tertuju pada gadis berkabung.

“Soyeon,” jawab gadis itu pendek.

“Apa kau sedang berduka?” tanya Sara lagi.

“Akh, ya, ibuku baru saja tiada,” ucap Soyeon lirih.

“Tunggu … apa aku tak salah dengar, ya? Kita berdua menggunakan bahasa yang berbeda, tapi kita tetap saling mengerti??” Mata Sara hampir membulat keluar.

Soyeon, juga wanita tua yang masih menyimak obrolan mereka serentak mulai menyadarinya.

“Apa kalian juga mengerti apa yang kuucapkan?” tanya wanita tua menimpali.

“Tentu saja,” Sara dan Soyeon kompak menjawab. Lantas sekali lagi mereka menyadari bahasa latin yang diucapkan wanita tua tersebut, belum pernah mereka pelajari sebelumnya.

Selanjutnya ketiga wanita dengan usia berbeda itu serempak menoleh pada Lucas yang bersidekap memperhatikan jalannya obrolan.

“Hey … hey, jangan menatapku begitu, Aku saja yang mengundang kalian belum memperkenalkan diri. Semua akan ada penjelasannya nanti. Tenanglah dulu, terutama kau Sara.” Lucas menunjuk hidung Sara mengingatkan. Sekali lagi Sara yang baru menyadari sesuatu justru menjerit.

“Aih, Lucas berbicara nihon go!” pekik Sara, “kenapa aku baru sadar, ya? Ah, kupikir karena terbiasa menonton drama Jepang, aku jadi mengerti ucapannya.”

“Tidak, bukan hanya kau, kita semua memang berasal dari negara berbeda dengan bahasa berbeda pula. Tetapi, kita akan saling paham satu sama lain karena suatu keajaiban di kedai ini.” Lucas mencoba menerangkan situasi yang dihadapi saat ini.

“Apakah kita sedang reuni? Apa kita adalah utusan negara? Apa kita sedang mengatasi perdamaian dunia?” tanya Soyeon menggebu.

“Ha-ha-ha … tidak, tidak Soyeon! Kita semua berada dalam keajaiban Kedai Komunitas Luka.” Ada rasa bangga dalam nada bicara Lucas saat memperkenalkan kedainya.

“Kedai yang aneh!” tukas wanita tua, yang kemudian langsung dibantah oleh Lucas.

“Bukan aneh, Nek! Melainkan ajaib.”

Lihat selengkapnya