Komunitas Luka

Misserasera
Chapter #6

Kematian Tertunda

Masa kecil yang kurindukan tidak pernah terulang lagi, ya, aku tahu itu … tapi bolehkah aku sejenak saja pada tawa kecil di hari itu, tawa yang kurindukan bersama Ayah.

Matahari pagi bersinar hangat. Kemunculan pertamanya, disambut tangan keriput yang menengadah seolah ingin meraih awan. Tangan milik wanita yang telah mempersiapkan kematiannya di pagi ini. Namun, urung sebab harus ada yang dilakukan nanti malam.

Masih menimbang dengan rupa gamang, Nyonya Lemon duduk tercenung pada sebuah kursi menghadap kolam. Air beriak, ikan-ikan yang berkerumun ribut pada remah roti yang ditaburkan olehnya menjadi hiburan pagi yang menyenangkan. Mood-nya pagi ini menjadi baik. Tiba-tiba pelayan berkerah tinggi datang membungkuk padanya, seorang pria paruh baya yang telah lama mengikutinya―asisten pribadi yang mengatur semua jadwal kegiatannya.

“Nyonya, Tuan Andres ingin bertemu,” ucap pria berkerah tinggi itu hati-hati, mood majikannya memang dapat berubah tiap saat.

Nyonya Lemon tidak bereaksi, ia menyibukkan diri memperhatikan ikan. Kali ini ikan-ikan itu dirasakannya lebih menghargai dirinya dibandingan Andres cucunya. Wanita tua itu memang tengah diliputi kekecewaan yang dalam. Menjadi ketua yang disegani tidak serta merta ia lolos dari pengkhianatan.

“Bagaimana, apakah anda ingin menemuinya?” tanya pria berkerah tinggi cemas.

Nyonya Lemon bergeming. Semakin asisten pribadinya mendesak, ia semakin diam. Akhirnya pria berkerah tinggi mengundurkan langkah dan pergi meninggalkan Nyonya Lemon dengan wajah mendengus kesal. Nyonya Lemon memejamkan mata dan menengadahkan wajah. Seandainya saja, ia tidak pernah mendengar rekayasa kematian yang direncanakan oleh cucunya Andres dan kepala pelayan rumah tangga alias asisten pribadinya itu … tentunya dirinya dengan wajah polos akan sangat girang menyambut Andres, apalagi Andres adalah cucu kesayangannya.

Hal paling menyakitkan bukanlah kematian itu sendiri tapi dikhianati oleh seseorang yang paling diperjuangkan selama hidupnya.

Kini aku tak memiliki siapa pun, pikir Nyonya Lemon. Pupil mata abu-abu menatap nanar pada telapak tangan di pangkuan. Tangan yang bersimbah darah, batinnya. Telah banyak hal kulalui, kehilangan satu per satu orang-orang yang tulus menyayangiku, dengan keji aku membunuh mereka, kini aku menuai balasnya. Kekayaan dan kekuasaan justru membenamkan aku dalam jurang kesunyian. Andai dulu tidak bosan pada kemiskinan mungkin kini justru memiliki keluarga yang hangat, batin Nyonya Lemon terus berbicara.

Ingatannya melayang pada musim hujan puluhan tahun lalu, saat ia masih kecil, bertubuh kurus dan sangat miskin. Di sebuah pondok yang usang, badannya menggigil kedinginan, tidur beralas selimut tipis. Perut laparnya menantikan rebusan kentang. Hanya ada satu kentang besar, setelah matang kemudian dibagi dua, untuk ayah dan dirinya sendiri.

“Makanlah, untukmu semua!” kata ayahmya saat itu. Nyonya Lemon yang ketika itu hanyalah anak kecil berusia sepuluh tahun, mengiyakan saja. Tatap matanya mengerjap melihat senyum sang ayah. Pria tegap itu berkulit gelap, bermata sipit―ciri khas keturunan suku bangsa Maya― satu-satunya keluarga tersisa. Mereka melarikan diri dari huru-hara di perkebunan cokelat. Semua ini karena mafia perdagangan. Mereka memonopoli perkebunan cokelat dan menindas para petani lokal, sehingga unjuk rasa dan kekisruhan pun berlangsung. Peristiwa pembakaran besar-besaran terjadi, banyak desa luluh lantak. Mereka yang kabur harus rela bersembunyi. Terus melarikan diri sampai-sampai hanya tersisa pakaian yang melekat pada tubuh.

Setelah melahap habis satu kentang rebus, perut anak kecil berusia sepuluh tahun itu masih juga kelaparan. Ayahnya mengusap pucuk kepala putri semata wayangnya dengan pandangan kasihan.

Lihat selengkapnya