Di bawah cahaya lampu kuning berkelap-kelip, sebentar nyala sebentar mati. Papan nama kedai terbuat dari kayu bertuliskan “Komunitas Luka” berderak-derak. Catnya telah kusam termakan usia. Cahaya bulan memantul pada lempengan logam pada papan nama kedai, mengenai huruf-huruf berlekuk dengan simbol cangkir kopi di atasnya.
Sementara itu, manusia-manusia di dalam kedai masih saling mengadu, nasib siapa yang paling sial atau siapa yang tangisannya paling kencang ketika saling merespon kisah tragis satu sama lain.
Lucas bersidekap, mengamati, mendengarkan saksama tiap curahan hati kliennya. Itu memang sudah menjadi tugasnya. Anehnya, cangkir kopi para tamunya tetap mengepul panas. Belum ada seorang pun yang diizinkan meminumnya. Mereka sibuk bercerita, membagikan pengalaman hidup sekaligus mengurangi derita. Beban berat di pundak terasa lebih enteng. Untuk sejenak ketiga wanita itu telah melupakan hal-hal menyebalkan yang terjadi dalam hidupnya.
Sara menoleh ke arah jendela, dilihatnya sinar bulan menyapa dari balik tirai. Suasana di dalam kedai ini hangat dan nyaman, bertemu manusia lain seperti ini merupakan hal langka bagi Sara. Selama ini dia mengklaim dirinya pengidap emotional numbness atau mati rasa emosional. Sara sering merasakan kehampaan dalam jiwanya, dia mengubah dirinya menjadi manusia yang terbiasa mengurung diri di dalam kamar, hanya berteman buku-buku cerita fantasi kegemarannya. Imajinasi liar dalam cerita fantasi membuat Sara memiliki harapan, bahwa keajaiban mungkin saja datang menghampirinya. Dulu, ia penyuka novel romance, tapi kini tidak. Sara membenci novel romance karena terlalu cemburu dengan romansa tokoh dalam cerita novel tersebut. Nasib cintanya memang tidak seberuntung tokoh protagonis dalam novel karya Barbara Cartland yang pernah ia baca, sedangkan nasib cinta Sara lebih menyerupai drama Jepang yang berakhir sad ending.
Malam ini, Sara begitu lugas mengisahkan kepahitan rasa yang dialami. Kepada Lucas, Sara mengaku terselamatkan. Detik saat bertemu Lucas, adalah detik yang memberi kekuatan tak kasat mata. Membuatnya berani melepaskan diri dari jeratan sifat toxic Angga. Selama ini Sara tidak berkutik. Telanjur mengabdikan diri pada pernikahan yang dicita-citakan berlangsung indah penuh kehangatan. Namun, kenyataan berbalik tak sesuai harapan, cintanya pada Angga padam seiring kecewa yang bertumpuk. Sara yang pendiam dan menarik diri dari pergaulan, memendam sendiri patah hati terdalamnya.
Lucas memberi nasihat untuk mengakhiri pernikahan Sara secara baik-baik. Soyeon dan Nyonya Lemon sama-sama mengangguk.
“Tidak semudah itu,” jawab Sara mendengus, “Dia pintar bermain kata, dan pada akhirnya aku terjebak kembali pada love bombing yang ia mainkan. Kurasa kabur hanyalah jalan satu-satunya.”
“Apa kau terintimidasi, Sara?” tanya Nyonya Lemon mengerutkan kening.
“Tentu saja, dia membuatku bingung dan mempertanyakan kebenaranku sendiri, setahun ini aku berakhir dengan menyalahkan diri sendiri, seolah semua terjadi hanya karena aku bernapas.”
Sara sedikit berlebihan mengutarakan situasi dirinya, tapi Lucas dan kedua wanita lainnya cukup memahami dan memberikan empati.
“Aku mengerti situasi sulitmu, seakan bernapas saja sudah salah,” gumam Soyeon menyetujui, “aku pun pernah mengalaminya, nenek dan ibuku sering melampiaskan mimpi mereka padaku, apa pun yang kuperbuat selalu disalahkan karena tidak memenuhi standar impian mereka.”
“Aku juga mengalami!” seru Nyonya Lemon menimpali ucapan Soyeon.
Semua orang menoleh pada sosok Nyonya Lemon yang sedang mengusap-usap black tatoo yang keriput.
“Dulu, aku terintimidasi oleh kondisi, lantas lebih gilanya lagi, justru diriku sendiri yang mencekik leherku, membuat diriku sendiri hidup serba salah dan merasa kotor. Aku cukup memainkan peran ganda. Menjilat sang ketua agar membimbingku untuk meraih kesuksesan dalam berbisnis, menguasai hatinya lalu menikam dari belakang, yeah … aku mengkhianatinya, melampiaskan dendamku pada sang ketua―ayah dari anakku sendiri. Untuk itu bertahun-tahun aku tak memberikan kasih sayang pada anakku kendati ingin kulakukan. Aku membohonginya, bahwa aku tak mencintainya agar ia kuat, masa-masa itu tenggorokanku seakan tercekik, acapkali aku mencemooh dan menghinanya. Alih-alih kuat ia tumbuh sakit-sakitan. Bukan hanya jiwanya rapuh, tetapi juga fisiknya. Akhirnya ia meninggal cepat, usianya masih 25 tahun, anaknya masih bayi waktu itu. Aku ingin menebus rasa bersalah akibat kelakuanku pada ayah si bayi , sehingga begitu memanjakan cucuku, berencana membuatnya sebagai penerusku. Kini, ‘anak bayi’ itulah yang hendak menghabisiku.”
Nyonya Lemon tertunduk lesu. Sara dan Soyeon juga. Terkecuali Lucas yang tetap dengan posisi tenang mendengarkan mereka. Setelah saling mengetahui problem kehidupan masing-masing, mereka menjadi akrab. Baru bertemu dan berkenalan, tapi melebihi sebagai keluarga yang mampu menghalau pedih.
“Kita memang tidak bisa mengendalikan perbuatan dan sikap orang lain terhadap kita, tapi kita masih bisa mengendalikan diri kita sendiri untuk merespons baik atau buruk dalam setiap kondisi yang ada,” ujar Lucas kemudian, tangan kanannya menarik-narik ujung dagu yang tak berbulu.
“Bagaimana denganmu sendiri, Lucas, mengapa kau peduli dengan masalah kami, bukankah kehancuran mental kami bukan urusanmu?” tanya Nyonya Lemon menyelidik.
“Aku juga tak ingin mengurusi urusan orang lain, hanya saja telingaku berdengung keras, berisik sekali … sampai-sampai aku tak bisa mengabaikannya.” Lucas terkekeh.
Bola mata Soyeon memperhatikan kepulan asap panas dari cangkir kopi yang semakin pekat.
“Tidak masuk akal, bukankah kita telah lama berada di dalam kedai?” tanya Soyeon bingung.
“Akh, ya, benar juga … hampir-hampir aku tak perhatikan, kenapa kopi itu masih panas, Lucas, kapan kami boleh meneguknya?” tanya Sara sambil memutar cangkir kopinya perlahan.
“Tidak, jangan sentuh! Kecuali kita telah bersepakat!” cegah Lucas.
“Apa kesepakatan kita?” tanya Nyonya Lemon curiga.
“Hmm, jika kalian meminum kopi ini, itu artinya kalian bersedia melupakan masa lalu dan hidup dengan identitas yang baru.” Lucas mengucapkan kalimat yang sebenarnya entah puluhan atau ratusan kali ia lontarkan kepada pengunjung kedai.
Kedai ini memang istimewa, tidak semua orang dapat mengunjunginya. Terkecuali seseorang yang mendapatkan undangan darinya. Kemunculan kedai ini pada mata pengunjungnya hanya terjadi bila kliennya itu dengan suka rela mencari alamat kedai sebagai pilihan lain dari jurang keputusasaan mereka.
“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Soyeon penasaran.
“Kisah pilu yang menjerat kalian selama ini akan tertampung dalam uap panas yang semakin lama semakin pekat. Setelah perasaan kalian lega mengeluarkan uneg-uneg, artinya kalian melepaskan penat jiwa dan ingin kembali berpegangan pada harapan.”