Komunitas Luka

Misserasera
Chapter #9

Tanpa Batas Waktu

Sinar matahari pagi mengintip dari sela ventilasi. Lucas berdiam diri pada sebuah kursi. Badannya yang tegap berisi, terkulai lemas. Biasa seperti itu … energi terkuras habis setelah menjalankan misi.

Komunitas luka adalah misinya. Membantu manusia dari keinginan mengakhiri hidup. Semakin lama asap-asap pekat yang menggumpal pada langit-langit kedai … semakin tebal. Setebal luka-luka orang-orang yang dibantunya.

Mereka yang terhapus ingatannya hidup kembali meninggalkan segala bentuk luka, berpisah dari ingatan buruk yang tertinggal dalam Kedai Komunitas Luka. Hanya Lucas seorang yang mengingat segalanya, itulah hukumannya. Menampung ingatan-ingatan orang-orang itu di pundaknya.

Apakah ini adil Tuhan..?

Kata-kata itu terus menari-nari.

Semua orang yang kusayangi mati satu per satu?

Lonjakan perasaan terus berkelebat.

Segala hal yang kusukai terenggut paksa …

Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan kepadaku?

Mengapa aku tidak boleh merasakan kebahagiaan?

Sepertinya semesta tak pernah mendukungku …

Merelakan asaku tuk meratapi kesedihan

Apa Tuhan begitu benci terhadapku?

Hingga tempatkan aku dalam jurang kesepian abadi

Tertinggal sendirian di bumi

Menjalani takdir

Sebatang kara

Tanpa batas waktu

***

Runtuhnya Keshogunan Tokugawa membuat beberapa samurai rela melepas pedang untuk kembali menjadi rakyat jelata dan beberapa lainnya memilih bekerja pada birokrasi pemerintahan.

Seorang samurai mantan pengawal keluarga Tokugawa memilih jalan berbeda, ia merupakan ronin yang tak memiliki tuan. Menggelandang dengan pedang terselip pada obi yang diikat denagn cara ronin musubi. Pemilihan warna pada kimononya pun terlihat sederhana, perpaduan abu-abu dan biru tua berbahan katun.

Ronin itu berhenti sejenak mengamati bunga sakura yang gugur dekat dengan jembatan. Merenungi tembok pagar batas jembatan yang sering menjadi saksi masa putus asanya. Entah berapa kali ia mencoba melakukan harakiri, sudah kesekian kali pula ronin itu melompat dari pagar jembatan. Kenyataan dirinya masih tetap hidup. Ronin tersebut tak tahu apakah ini keberuntungan atau suatu kutukan, padahal ia sudah tak tahu lagi apa tujuannya melanjutkan hidup.

Ronin bertubuh tegap bermata tajam itu melanjutkan langkah bersama tongkat kayu yang setia menemaninya mengelilingi pasar. Dilihatnya mulai banyak benda-benda asing yang dijual pedagang. Restorasi meiji telah berakhir sepuluh tahun yang lalu, seluruh orang-orang yang dikenalnya telah lama tiada. Satu per satu menjemput kematian, sedangkan ronin “yang tak bisa mati” itu hidup dalam kesepian tanpa batas waktu. Menyesali diri sebab kebal senjata, bahkan pedang sendiri tak mampu merenggut nyawanya.

“Yoshio!”

Ronin itu terkejut, ada yang memanggil namanya. Tidak ada yang mengenalinya selama ini. Ke mana pun dirinya melangkah. Pandangan mata orang-orang hanya akan mencari-cari letak pedang yang tersembunyi dalam pelukan obi.

“Yoshio!!”

Sekali lagi suara itu memanggil, kali ini lebih lantang. Yoshio―nama ronin tersebut―menoleh ke arah suara. Terlihat sosok asing, bukan nihonjin … tersenyum ke arahnya.

Yoshio melihat pada lapak dagangan terdapat banyak perabot makan berbentuk keramik, pada gentong tanah liat yang berjejer rapi berisi bubuk-bubuk berwarna hitam sedikit kecokelatan. Penutupnya berwarna transparan, sehingga Yoshio leluasa melihat isi di dalamnya.

Seorang pria asing berwajah runcing, berhidung mancung mengenakan pakaian berkerah berwarna putih.

“Bagaimana anda tahu namaku?” tanya Yoshio tak sabar,

Pria itu kembali tersenyum, kemudian meletakkan mizusashi berisi air di bawah kakinya. Rupanya, saat memanggil Yoshio dirinya tengah sibuk berbenah di antara gerabah-gerabah dalam lapak dagangannya. Fisiknya terlihat seperti kakek-kakek, tapi kekuatan ototnya lebih mirip kuli pasar yang memanggul kantong beras.

“Aku telah lama menunggumu!” ujar pria asing itu.

“Bagaimana mungkin anda mengenalku? tanya Yoshio lagi, “ lalu, eh .., ini .., bagaimana mungkin … aku dapat memahami apa yang anda katakan, anda berbahasa asing, bukan?”

Yoshio semakin terperangah dengan pertemuan pertamanya bersama sosok asing tersebut. Pria asing itu terkekeh, lantas tertawa terbahak. Entah apa yang lucu, pikir benak Yoshio.

Setelah puas tertawa, pria asing itu berujar, “Aku mengetahui, kau adalah pria tanpa batas waktu.”

Kali ini dahi Yoshio mengernyit serius. Tidak ada satu orang pun sebelumnya … yang mengetahui rahasia terbesar dalam hidupnya.

“Masuklah ke dalam kedaiku, aku akan menjamu tamu istimewaku ini dengan baik.” Pria itu kemudian membalik badan, berjalan menuju suatu pintu, disibaknya noren bertuliskan kanji Kizugurumi. Yoshio sendiri tidak mengerti mengapa kedai tersembunyi seperti ini memiliki karakter kanji kizu yang berarti luka dan kanji gurumi yang artinya tulang.

Pria asing itu bertubuh jangkung, Yoshio mengira-ngira tinggi pria tersebut lebih dari dua meter. Ia harus menunduk, membungkuk ketika memasuki kedai. Sejenak meragu, tetapi pada akhirnya Yoshio memutuskan untuk mengikuti saja langkah pria tersebut. Dengan langkah pincangnya Yoshio memasuki kedai.

Mereka memasuki ruang tatami. Pria asing mengambil Zabuton dan menyiapkannya di sisi meja kecil diatas lantai bertatami.

Setelah Yoshio duduk, menekuk kedua lutut, pria asing justru meninggalkannya sendirian. Tak berapa lama sebuah aroma harum menyeruak menghinggapi indra penciuman Yoshio yang menikmati.

“Aroma apa ini?” tanya Yoshio.

“Kopi,” ujar pria asing muncul kembali dengan membawa baki berisi dua cangkir cantik berbahan keramik. Cangkir itu memiliki telinga untuk jemari tangan, terkesan asing dan lucu di mata Yoshio.

“Anda mendapatkan barang yang bagus,” gumam Yoshio mengamati dua cangkir keramik tersebut.

“Akh, ya, aku sedang beruntung,” kekeh pria asing, tangan kirinya sibuk meletakkan cangkir.

Rupanya kegiatan itu tak luput dari pengamatan seorang samurai seperti Yoshio, “Kau kidal?” tanya Yoshio pada pria asing itu.

Pria asing terperanjat lalu mengangguk, tak lupa mempersilakan Yoshio untuk meminum kopinya.

Lihat selengkapnya