Pukul dua dini hari, kembali sebuah ketukan membangunkan kantuk Lucas, untuk beberapa menit lalu, ia memang sempat terkantuk-kantuk dengan posisi bersidekap duduk di sebuah kursi. Tidak tertidur pulas, tapi cukup terbius akibat alunan musik yang mendayu.
Tuk … tuk … tuk ….
Klang … klang ….
Bahkan lonceng batu dibunyikan tak sabar. Siapa gerangan? Benak Lucas bertanya-tanya. Malam ini tidak ada klien yang ia tunggu. Seharusnya tak ada pengunjung malam ini.
Lucas bangkit dari duduknya. Berjalan melangkahi koridor menuju pintu hati-hati. Seharusnya ia abaikan saja, toh sudah dipastikan orang yang datang ini bukan tamunya.
Sudah beberapa pekan ini, Lucas tidak menyebarkan undangan komunitas luka pada penjuru dunia. Dirinya tengah berada di situasi kebosanan yang amat tinggi. Puluhan bahkan dua ratus tahun melakukan hal rutin membuatnya jenuh. Hidupnya seperti jalan di tempat. Masih diingatnya perkataan pria asing bernama Lucas yang kini namanya tersemat pada dirinya, jika kelak di masa depan dirinya akan menemukan jawaban dari misi yang diberikan.
Sayangnya hingga tahun 2024 berakhir, Lucas belum juga menemukan jawaban itu, apalagi ujung dari keistimewaan tanpa batas waktu yang melekat dalam hidupnya.
Kleek …
Krieeet …
Pintu membuka perlahan. Sebuah wajah berwajah oriental muncul dari balik pintu yang terbuka. Gadis berwajah imut dan lucu, tingginya dua kaki, berlesung pipit dan memeluk boneka. Gadis itu langsung menyapa Lucas dengan sebutan paman.
“Hai, Paman … apa sekarang anda senggang?” tanya gadis itu dengan mimik muka lucu.
“Tidak, aku sibuk!” tukas Lucas ketus, langsung berniat menutup pintu.
“Eit, tunggu dulu …!” Sebuah kaki kecil menyela masuk, menghalangi pintu yang hendak tertutup. Mata Lucas membola. Menyesali mengapa ia menuruti kepekaannya untuk membuka pintu.
Seharusnya aku tetap memakai earphone supaya tidak mendengar suara berisiknya, pikir Lucas.
“Paman, izinkan aku masuk ..!”
“Tidak! Pergilah! Ini bukan tempat untukmu bermain-main!”
“Ti-tidak tunggu dulu, Paman!”
Gadis itu menyerobot masuk, Lucas tidak dapat berbuat apa-apa, yang dilakukan kini hanya menggaruk kepala yang mendadak gatal.
Lucas mulai memperhatikan rupa gadis mungil yang langsung menempatkan dirinya duduk pada kursi tempat biasa klien Lucas duduk. Masih sangat belia, sekilas rok selutut yang dikenakannya mirip seragam sekolah. Eh, tunggu dulu, Lucas mulai menyadari sesuatu.
“Untuk apa gadis remaja sepertimu berkeliaran di tengah malam, eh, tidak … bahkan kini telah dini hari?!” Mata Lucas awas menatap gadis tersebut, sedangkan yang dipandang seolah tak peduli. Ia terus saja memainkan boneka kucingnya dengan penuh kasih sayang.
“Aku bertanya padamu, siapa namamu?”
“Yu Lan,” jawab gadis itu santai.
“Untuk apa kemari?”
“Aku kehilangan Mao, dia tewas tertabrak dan aku sangat sedih,” gumam Yu Lan.
“Siapa Mao?”
“Kucingku,” jawab Yu Lan.
“Oh, hanya seekor kucing,” gumam Lucas mendengus.
“Hanya??? apa kau bilang hanya??? sungguh anda tak punya empati Paman!” seru Yu Lan emosi.
“Ma-maaf, bukan maksudku … aku tidak meremehkan rasa kehilanganmu, tapi tadinya kukira Mao adalah manusia,” ucap lucas mencoba menjelaskan.
Lucas benar-benar menyesali tindakannya barusan. Memang benar ia sempat meremehkan, suatu hal yang teramat terlarang bagi jiwa terpilih yang mengabdi untuk komunitas luka ini.
Lucas menantap gadis yang memeluk boneka kucingnya erat. Sepertinya boneka itu wujud pengganti bagi Mao yang telah mati, gumam Lucas dalam hati.
“Apa anda tidak menawari aku kopi?” tanya Yu Lan mengejutkan.
“Gadis remaja tak boleh meminum kopi, dan lagi hei … dari mana kau tahu?”
Lucas cukup terperanjat. Gadis itu memang penuh kejutan. Tingkah polahnya seperti anak-anak, tetapi tatap tajam kedua matanya mengingatkan Lucas pada dirinya ketika masih menjadi ronin.
Gadis ini cukup berbahaya, dia begitu misterius.
“Dari mana kau tahu tempat ini? Aku tidak memberikanmu undangan. Apa kau hantu?”
“Wouw, satu-satu Paman! Aku bukan hantu!”
“Tidak sembarangan orang dapat menemukan tempat ini, kecuali dia memilki kertas alamat yang kuberikan.”