Kontrakan Paling Berisik di Dunia

freza nur fauzi
Chapter #1

Rumah dalam Senyap

Kunci dingin berputar di tangan Maya, menghasilkan suara ‘klik’ yang memecah keheningan absolut. Dia mendorong pintu kayu jati yang tebal. Aromanya yang khas menyapa indra: campuran debu, kelembapan, dan sedikit bau rempah yang tak terhapuskan dari masakan bibinya—Susi. Langkah kakinya bergema di ubin dingin, seolah-olah seluruh ruangan menahannya untuk tetap diam. Lampu mati, tirai tertutup, jendela enggan terbuka, semuanya sunyi, terlalu sunyi.


“Sama sepinya kayak hati gue," Maya berbisik pada bayangan sendiri di cermin usang di sudut.


Rambut hitam panjangnya menjuntai di bahu, menutupi mata lelah.


“Maaf, Bi. Maya pulang."


Dia kini berjalan perlahan, melewati ruang tamu dengan sofa berjemur matahari yang sudah lama tak dijamah, ke dapur yang masih tercium sisa-sisa gorengan sang bibi. Kenangan datang seperti gelombang, mendorong paksa hati yang selama ini sudah dibangun dengan tembok tebal. Dia menelusuri lemari, membuka satu per satu laci. Setiap sudut menyimpan cerita yang membuatnya tersenyum, dan perih secara bersamaan.


“Yaelah, Bi. Kenapa sih bibi ninggalin rumah segede ini sendirian?” dia bergumam lagi, sembari mengusap lapisan tipis debu di meja makan, "Bibi tau, kan, Maya gak betah sendirian!"


Ruangan demi ruangan dijelajahi. Tiga kamar tidur di lantai atas, masing-masing dengan jendela menghadap ke taman kecil. Semuanya rapi, seolah Bibi Susi baru saja keluar untuk berbelanja. Kamar utamanya diisi ranjang kayu ukir, lemari antik yang besar, dan satu lukisan pemandangan pantai yang sering Maya lihat sejak kecil. Ada gorden tipis warna pastel yang tersampir anggun, menunggu sentuhan tangan untuk dibiarkan bergerak bebas. Semuanya sempurna, sekaligus terasa … kosong.


“Maya gak bisa tinggal di sini, gak bisa sendirian kayak gini.”


Dia menarik napas dalam, lalu memejamkan mata. Otaknya berputar cepat mencari solusi. Ini bukan sekadar warisan. Ini penempatan paksa dari "pria" itu, dari dunia itu, tempat persembunyian yang aman tapi mencekik.


Tangannya gemetar sambil merogoh saku, untuk mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya mengetik nomor telepon seseorang yang dulu sering Bibi Susi sebut-sebut.


“Halo …, ini Bu Lina, agen properti?”


Terdengar suara ramah dari seberang.


"Iya, dengan siapa ini? Maaf, saya sedang ada di tengah klien."


“Ini Maya, Bu. Ponakannya mendiang Bu Susi.”


Astaga, Nduk! Kamu sudah balik toh? Kapan? Maaf ya waktu itu Ibu gak bisa ke pemakaman, Ibu lagi sakit banget," suara Bu Lina langsung berubah hangat, sarat basa-basi.


“Nggak apa-apa, Bu. Saya juga baru beberapa hari ini. Itu, Bu … saya mau minta tolong, nih.”


Maya mengerjap, mencari cara paling sopan untuk menyampaikan keinginannya.

Lihat selengkapnya