Maya mengerjap, seperti terbangun dari mimpi yang panjang. Tangannya reflek menurunkan gagang pagar.
“Maya?” tanya Raka lagi, nada bicaranya santai, seolah sudah kenal lama. “Yang ngekoskin kamar ini, kan? Bu Lina bilang suruh ke sini langsung.”
“Iya, saya Maya,” jawab Maya datar, berusaha terdengar profesional. Ia tidak ingin memperlihatkan kegugupannya atau kesan pertama yang rapuh. “Sudah bikin janji?”
Raka nyengir, menggaruk belakang lehernya. “Waduh, belum sih, Mbak. Tapi kan kata Bu Lina ada tiga kamar kosong. Ngapain pakai janji segala? Santai aja, kayak di pantai.”
Maya mengangkat satu alis. Tipe begini toh penyewa pertamanya. “Ini bukan pantai. Ini rumah. Aturan tetap aturan. Masnya bisa masuk dulu, tapi ini saya anggap tur biasa, bukan langsung deal.”
“Oke deh, Mbak Bos!” Raka mendorong pagar tanpa permisi, motor matic-nya langsung diparkir sembarangan di halaman. Helmnya dilepas, memperlihatkan rambut gondrong berantakan yang kontras dengan kaus band metal yang dia kenakan.
Maya melotot tipis, kesal melihat cara Raka main nyelonong begitu saja. “Jangan manggil saya ‘Mbak Bos’. Manggil nama saja.”
“Oke, siap, Maya! Panggilan kita biar akrab, kan?” Raka tersenyum lebar, menunjukkan gigi putih. “Rumah gede banget, lho ini. Bu Lina bilang dulunya punya nenek. Eh, bibi. Ini beneran mau disewain dua jutaan?”
Maya mengernyit. Sudah langsung ke harga. “Iya, per kamar. Dua juta sudah paling murah untuk fasilitas selengkap ini.”
“Wow, mewah banget dong saya. Mahasiswa ngekos di rumah gedong. Cocok buat update status nih.” Raka terkekeh, tanpa menanti dipersilakan masuk, sudah lebih dulu melangkah ke dalam ruang tamu. Sepatunya belum dilepas.
“Sepatunya dilepas dulu,” tegur Maya dingin, melangkah lebih cepat menyusul Raka. Matanya melotot pada bekas jejak kaki di ubin bersih. Rumah yang baru setengah mati ia bersihkan tadi sore.
Raka terperanjat. “Eh, iya, iya. Maaf, Maya. Kebiasaan kalau di kontrakan lama. Langsung nyelonong.” Ia dengan canggung melepas sepatu ketsnya yang warnanya sudah pudar. Baunya… lumayan.
“Oke, sini. Mau lihat kamar yang mana?” Maya berusaha tetap tenang. Ini penyewa pertama, jangan langsung kabur karena tatapan sangar.
“Kamar mandi ada berapa sih? Bu Lina bilangnya tiga, ya?” Raka bertanya sambil mengamati dinding, jemarinya mengetuk-ngetuk bingkai foto lama. Ia seperti detektif yang sedang menyelidiki tempat kejadian perkara.
“Tiga. Di lantai bawah satu, di atas dua. Kamar mandi dalam ada satu, di kamar utama, tapi itu tidak disewakan.” Maya menjelaskan.
“Wah, kalau ada kamar mandi dalam saya mau dong! Privasi gitu.” Raka kembali nyengir.
“Saya bilang, itu tidak disewakan,” tegas Maya. Nadanya mulai menunjukkan ketidaksabaran.
“Hehe, iya, iya. Kan cuma nanya. Jangan sensi dong, Mbak. Eh, Maya,” Raka meralat cepat. Ia malah cengar-cengir.
Maya menghela napas. Sepertinya kesunyian rumah memang akan segera berakhir, tapi entah berakhir menjadi damai atau jadi… bising seperti Raka.