Kontrakan Paling Berisik di Dunia

freza nur fauzi
Chapter #3

Sinyal Buruk

"Maya, kamu mendengar saya? Kenapa baru dijawab?"


Maya menggigit bibir bawahnya, meredam rasa gemuruh di dadanya. Senyum tipis yang tadi sempat mekar sudah lenyap digantikan oleh garis kekhawatiran yang samar.


"Maaf, Pak Arya. Saya… sedang di luar sebentar tadi. Sinyalnya kurang bagus," ia berbohong. Matahari senja masih hangat, dan ponselnya berada di tangan. Pria di seberang sana pasti tahu.


"Di luar? Sedang apa? Kamu sudah lupa perjanjian kita?" Suara Arya terdengar dingin, mengikis setiap kenyamanan yang baru saja dirasakan Maya. "Saya tidak suka kalau kamu tidak di tempat seharusnya, Maya."


"Tidak, Pak. Saya hanya… mencari udara segar saja," sahut Maya, berusaha terdengar setenang mungkin. Jantungnya berdebar kencang. Ia benci setiap kali pria itu menelepon, terutama saat ia merasa sedikitpun kebebasan.


"Cari udara segar di mana? Di taman? Bukankah itu terlalu terbuka?" Nada Arya melunak sedikit, namun lebih mengintimidasi. "Kamu lupa, di luar sana banyak mata. Saya sudah bilang, jangan buat masalah baru."


Maya memejamkan mata. Sudah sering kali ini terjadi. Setiap detail kecil tentang dirinya selalu dipertanyakan. Ia adalah seorang simpanan, namun juga seorang tahanan emas. Perlindungan yang diberikan Arya sama saja dengan belenggu tak terlihat.


"Tidak, Pak. Saya di halaman belakang. Sepi kok."


"Bagus. Dan… saya dengar kamu memasukkan orang asing ke dalam rumah."


Seketika Maya terkesiap. Informasi ini? Begitu cepat? Pasti Bu Lina yang tidak sengaja bicara. Atau mata-mata Arya memang tersebar di mana-mana?


"Saya… hanya menyewakan kamar, Pak. Agar rumah ini tidak terlalu sunyi," jelas Maya, mencoba menjaga nada suaranya tetap hormat.


"Sunyi?" Arya tertawa pelan, tawa yang tak sampai ke mata. "Dunia luar lebih berbahaya dari kesunyian, Maya. Dan ingat, kamu bukan orang biasa lagi. Menumpuk orang di sana… itu hanya akan menarik perhatian."


Kerongkongan Maya tercekat. "Saya butuh uang, Pak. Dan saya… juga merasa kesepian di sini sendirian."


"Uang? Bukankah saya sudah menyediakan semua kebutuhanmu?" Suara Arya meninggi. "Kamu punya kartu, kamu punya rumah, kamu punya kendaraan. Kamu ingin lebih?"


"Bukan itu maksud saya, Pak. Saya hanya ingin… memiliki sesuatu milik saya sendiri. Pekerjaan. Atau kegiatan."


"Pekerjaanmu sekarang adalah hidup tenang dan tidak membuat masalah." Tegas, final. "Keluarga mereka siapa? Background mereka seperti apa? Sudah kamu selidiki semua?"


Maya terdiam. Tentu saja ia belum. Raka baru saja pergi beberapa menit lalu. Ia hanya merasa lelah dengan kesendirian dan keputusan yang sepihak dari pria di seberang sana.


"Hanya mahasiswa biasa, Pak. Saya janji akan hati-hati."


"Hati-hati, ya?" Arya mengulang kata-kata Maya dengan nada mengejek. "Baiklah. Kali ini saya akan biarkan. Tapi ingat, Maya. Sekali lagi ada masalah yang berhubungan dengan tempat itu… saya akan mengurus semuanya dengan cara saya. Mengerti?"


Setiap kata terasa seperti cambuk. Maya mengepalkan tangannya. "Mengerti, Pak."


"Bagus. Saya harap kita tidak perlu menelepon lagi dengan topik semacam ini. Saya ingin mendengar berita baik darimu. Bukankah minggu depan kita akan makan malam bersama?"


Maya menelan ludah. "Iya, Pak."


"Oke. Jangan sampai terlambat. Selamat malam." Panggilan itu terputus sepihak. Bahkan sebelum Maya sempat mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin daripada kesunyian yang tadi sempat ia usir.


Ia menyeka pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. Senja sudah berganti malam sepenuhnya. Lampu jalanan mulai menyala, menerangi siluet pohon di halaman. Rumah yang tadi terasa menjanjikan harapan kini kembali seperti benteng yang memenjarakan. Ia harus sangat berhati-hati. Sangat hati-hati. Terlalu banyak hal yang harus dipertaruhkan. Tidak hanya dirinya, tapi juga ketenangan yang baru sedikit ia dapatkan.


*


Beberapa hari kemudian, hidup Maya berubah total. Rumah itu tidak lagi senyap seperti kuburan. Ada suara musik metal yang samar-samar dari kamar Raka, derit kursi gaming yang dipakai belajar atau mungkin bermain, dan sesekali tawa renyah yang terdengar sampai ke lantai bawah.

Lihat selengkapnya