"Hah?" Pak Bimo tertawa lepas, menyikut lengan Raka. "Makan sendiri masakan saya kok zombie. Tapi kalau suruh cicip masakan kamu… apa? Jangan-jangan zombie ngeliatnya malah minggir."
Raka cengengesan, menggeleng. "Saya mah masakan warung, Pak. Jauh di bawah level maestro macam Bapak. Level masakan Bapak itu… perlu didoain dulu sebelum makan."
"Betul! Doa biar kuat!" Maya melintas, membawa tumpukan panci kosong ke wastafel. "Sudah sana, kalau tidak mau bantu cuci piring, jangan buat rusuh dapur."
"Aduh, siap, komandan! Nanti saya gosok kamar mandi deh, habis ini," Raka langsung ngeloyor pergi, sebelum Maya sempat melancarkan omelan. Meninggalkan Pak Bimo yang masih mengulum senyum melihat keramaian baru di dapur.
*
Pintu terbuka beberapa hari kemudian. Maya melihat seorang pria muda berdiri di depannya. Tidak, lebih tepatnya seorang laki-laki yang mungkin sedikit lebih tua dari Raka. Rambutnya hitam, agak lepek, menutupi sebagian kening. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Tangannya memegang sebuah ransel lusuh yang tampak berisi penuh. Sebuah koper kecil teronggok di samping kakinya. Berbeda jauh dari Raka yang ceplas-ceplos atau Pak Bimo yang ramah namun cenderung ‘mengintimidasi’ lewat makanan. Pemuda ini terlihat… tegang.
"Ardi?" Maya mencoba menebak, berdasarkan info dari Bu Lina yang sebelumnya mengirim foto. Namun di foto, pemuda itu terlihat tersenyum tipis. Sekarang, ekspresinya lebih mirip orang ingin kabur.
"I-iya, Mbak. S-saya Ardi." Suaranya terdengar kecil, hampir berbisik. Matanya memandang ke segala arah kecuali langsung ke arah Maya.
Maya mengangkat satu alis. Tipe orang baru lagi, dan ini sepertinya tipe yang sangat berbeda. "Silakan masuk, Ardi. Bu Lina sudah memberitahu semuanya, kan?"
"Sudah, Mbak." Ardi buru-buru mengangguk. Dia melewati ambang pintu dengan hati-hati, seolah takut ada ranjau di dalamnya. Koper dan ranselnya diletakkan di dekat kaki.
"Kamar Ardi yang di lantai atas. Nomor dua. Yang agak pojok. Dekat kamar mandi luar juga." Maya berjalan duluan, mempersilakan Ardi naik. Pria muda itu mengikutinya, langkah kakinya hampir tidak terdengar.
Ketika sampai di depan kamar, Maya membukakan pintunya. "Ini kamarmu. Cukup luas. Kalau ada apa-apa, bisa langsung bilang saya. Ada dua penghuni lain, Raka di kamar sebelah sana, Pak Bimo di bawah. Jadi jangan terlalu segan untuk bersosialisasi."
Ardi hanya mengangguk pelan, tanpa banyak bicara. Dia melihat sekeliling kamar, tatapannya menyapu setiap sudut dengan cepat, seolah sedang memindai ancaman tersembunyi. Barang bawaannya pun tak banyak; hanya laptop di ransel, beberapa pakaian di koper. Ini adalah orang yang paling ‘minimalis’ dari ketiga penyewa.
“Internetnya sudah terpasang. Wi-Fi juga sudah saya taruh di ruang tamu. Password-nya bisa dilihat di meja sana,” Maya menambahkan. Sepertinya kalimat ini penting untuk seorang programmer seperti Ardi.
Wajah Ardi sedikit cerah. “Oh, sudah ada ya, Mbak? Bagus.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Maya menghela napas samar. Anak ini memang sangat pendiam. "Butuh bantuan angkut barang? Tidak ada yang lain lagi, kan?"
"Tidak, Mbak. Ini saja." Ardi menggelengkan kepala. "Nanti saya bawa masuk sendiri."
“Oke,” kata Maya. "Kalau begitu, saya tinggal dulu. Kalau ada pertanyaan, panggil saja."