"Router?" Raka menyergit, ekspresi khawatir di wajahnya seketika luntur berganti cengengesan. "Ya ampun, Ardi. Aku kira kamu pingsan gara-gara nggak ada stok mi instan!"
Pak Bimo mengernyit. "Lho, itu kan gampang, Nak. Matiin terus nyalain lagi saja! Sama kayak TV kalau gambarnya putus-putus. Mau Bapak bantuin?"
Ardi buru-buru menggeleng. Wajahnya yang pucat makin memerah karena malu. "Sudah saya coba, Pak. Banyak kali. Tapi t-tetap nggak bisa connect. Saya coba cari di Google… nggak nemu solusinya."
"Kamu sih! Dari kemarin disuruh makan 'Kari Anti Galau', nggak mau! Nah, kan! Sekarang otak jadi lemot, internet ikutan lemot!" Pak Bimo, tanpa menunggu, langsung melangkah ke arah Ardi. "Sini Bapak lihat. Saya juga kadang bantu nyalain internet punya tetangga."
Maya menggelengkan kepala melihat tingkah dua penyewa barunya. Raka sudah melenggang masuk ke kamar Ardi tanpa diundang. "Raka, jangan nyelonong begitu!"
"Nggak apa-apa, Maya. Ini demi kemanusiaan dan koneksi internet," balas Raka, sudah berjongkok di samping meja Ardi, mencoba mencolok ulang kabel-kabel di belakang router.
Ardi meringkuk di pojok tempat tidur, terlihat canggung dengan keberadaan mereka berdua di kamarnya. Matanya memancarkan rasa tidak nyaman yang begitu jelas.
"Ini kabelnya goyang nih kayaknya. Nggak rapat," kata Raka, menunjuk salah satu kabel ethernet yang berwarna biru. "Pantesan. Kamu nyoloknya sambil merem kali ya?"
"Bukan gitu, Kak. Semalam masih bisa kok. Barusan aja nggak bisa," sahut Ardi pelan, tapi ekspresinya agak tegang. Mungkin dia benar-benar terganggu. Dunia maya adalah dunianya. Tanpa internet, ia tak lebih dari kerangka robot kosong.
Pak Bimo ikut menyahut. "Coba dicolok lagi sampai bunyinya 'klek'. Kayak tutup botol, Nak. Kerasin aja!"
Raka mengikuti instruksi, menekankan kabel itu sampai terdengar suara klik kecil. Lampu indikator pada router yang tadinya berkedip oranye, kini mulai menyala hijau stabil. "Nah, beres kan? Gini aja panik."
Ardi menatap router itu, matanya membelalak, lalu ia mengambil laptopnya, membuka peramban, dan mengetik sesuatu dengan tergesa. Sebuah laman muncul. Senyum lega merekah di bibirnya yang tadinya pucat. "Wah, udah bisa lagi! Makasih, Kak Raka, Pak Bimo! Mbak Maya!"
"Ciee… senyumnya baru kelihatan kan!" Raka tertawa, menepuk bahu Ardi keras-keras. "Makanya, sering-sering keluar kamar, jangan jadi hantu terus! Internet doang urusan perut kosong nih!"
Ardi hanya mengangguk canggung, namun tampak sedikit lebih relaks. "I-iya. Nanti."
Maya melangkah mendekat. "Kalau sudah bisa, kalian keluar dulu dari kamarnya Ardi. Jangan ganggu lagi. Ardi, kamu sudah janji makan, kan? Mi instan saja mana cukup. Nanti kamu bisa kurus."
Raka dan Pak Bimo langsung nyengir lebar. Pak Bimo melangkah keluar duluan, menyusul ke dapur dengan langkah bersemangat. Raka, yang hendak menyusul, sempat melirik Maya.
"Tapi beneran, ya, Ardi. Mi instan bukan menu utama kalau di sini," Raka mengacungkan jari telunjuknya pada Ardi, "Yang jelas nanti harus bayar lho kalau ngikut makan di dapur. Harganya... sepuluh kali lipat dari harga internet!"
"Apa-apaan Raka?!" Maya mencubit pinggang Raka pelan. "Ayo keluar!"
"Aduh, iya, iya! Ini juga mau keluar!" Raka mengelus pinggangnya, meringis. "Galak banget sih, May! Cantik-cantik gini."