Kontrakan Paling Berisik di Dunia

freza nur fauzi
Chapter #6

Gombal Dibalas Usil

“Halah, gombal receh,” sungut Maya, menjulurkan lidah sedikit pada Dimas. Matanya melirik Pak Bimo. “Pak, Dimas suruh cuci piring aja biar nggak banyak tingkah.”


“Wah, jahat banget sih kamu, May!” Dimas terkekeh, menggelengkan kepala. “Nggak kasihan sama saya yang udah capek-capek bantu makan ini?”


“Makan aja bangga,” timpal Raka, mulutnya penuh. Ia menunjuk Dimas dengan sendok nasi. “Mending bantu Pak Bimo bersih-bersih dapur kalau mau dapat pahala.”


“Betul, Nak Raka!” Pak Bimo tertawa lepas, matanya mengerut di sudut. “Nanti kalau rajin, saya buatin sop buntut spesial, buat Nak Raka dua porsi!”


Raka langsung menyergah, tangannya menangkis udara. “Ampun, Pak! Jangan bikin saya gemuk, Pak. Nanti saingan sama Mas Dimas!”


“Saya juga kan cuma sekali-sekali ke sini, Nak,” protes Dimas. “Tapi saya bersyukur kok, punya tetangga seru kayak kalian.” Dimas memandang sekeliling, senyumnya kini lebih tulus. “Asli, masakan Pak Bimo top! Rasanya nggak kalah sama restoran bintang lima.”


Pak Bimo langsung berbinar-binar. “Ah, Nak Dimas bisa saja! Jadi tersanjung saya.”


Ardi, yang sejak tadi hanya diam mengamati, tiba-tiba bersuara pelan. “Enak, Pak Bimo. Saya… belum pernah makan kari se-berani ini rasanya.”


Mata semua orang langsung tertuju pada Ardi. Raka hampir tersedak tawanya. Maya terpaksa menyembunyikan senyumnya di balik tangan. Pak Bimo menganga, sebelum akhirnya tertawa keras.


“Nah, ini baru testimoni jujur!” Raka menyahut. “Ardi si detektor rasa jujur.”


Ardi kembali menunduk, wajahnya sedikit merah karena jadi pusat perhatian.


“Nak Ardi juga suka, ternyata! Duh, senangnya hati saya,” ucap Pak Bimo, nadanya penuh semangat. “Oke deh, besok pagi saya buatin omelet isi rendang!”


Raka terbatuk kaget. “Omelet… isi rendang? Ampun, Pak! Jangan coba-coba, Pak! Bisa-bisa Mas Dimas nggak berani ke sini lagi!”


“Lho, kan cuma variasi, Nak Raka. Siapa tahu Nak Ardi suka.” Pak Bimo mencoba meyakinkan, namun matanya memancarkan eksperimen kuliner yang lebih gila.


“Kalau yang itu, biar Pak Bimo makan sendiri aja,” ucap Maya, bangkit dari kursi. Ada ganjalan kecil di perutnya. Ganjalan waktu yang semakin menipis. “Sudah ya, kalian lanjutin saja makannya. Saya mau beresin meja dapur dulu.”


“Eh, kok buru-buru, May?” Dimas menatap Maya heran. “Tumben.”


“Udah malam. Saya mau istirahat,” jawab Maya singkat, mencoba terdengar normal.


“Lho, biasanya kalau sudah ngumpul begini, Maya yang paling terakhir cabut,” Raka menyindir.


“Banyak omong kamu. Mau saya jewer kupingnya?” Maya melotot, namun ada jejak tawa di matanya. Ia meraih piring kotor dan membawa ke wastafel. Dari balik pundaknya, ia masih mendengar Dimas yang bertanya-tanya, “Ih, tumben banget sih Mbak Maya.”


Maya membiarkan celotehan mereka tenggelam dalam riuhnya suara air mengalir di wastafel. Tangan lentiknya sigap membersihkan sisa kari, namun pikirannya sudah jauh melayang. Sebagian dari dirinya ingin tinggal di sini, menikmati setiap tawa dan candaan bodoh mereka. Merasakan kehangatan yang sudah lama tak ia temukan. Namun sebagian yang lain… ada tuntutan. Kewajiban. Janji.

Lihat selengkapnya