“Bahwa saya… tidak akan melenceng lagi,” lirih Maya, pandangannya tertuju pada tangannya sendiri di pangkuan. Ia tahu ia berbohong, tahu ucapannya tak sejalan dengan isi hatinya, tapi tak ada pilihan.
“Bahwa saya akan patuh. Dan mengusir mereka.” Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.
Arya tersenyum, senyum penuh kemenangan. Itu bukan senyum kebahagiaan, melainkan sebuah pertanda akan kontrol yang lebih dalam. “Mengusir mereka. Bagus. Jangan sampai mereka terlalu betah di sana, Maya. Saya tidak suka kalau aset saya dijadikan arena bermain.”
Aset. Kata itu mengiris hati Maya. Ia hanya sebatas aset di mata pria itu. Sebuah properti yang harus dijaga tetap dalam kendali, sesuai dengan ekspektasinya. Gejolak amarah dan muak kembali membuncah di dalam dirinya, tapi Maya menelannya paksa.
“Baik, Pak. Akan saya urus.”
Mobil mewah itu melaju membelah malam yang pekat, meninggalkan gemerlap lampu kota dan kembali menuju jalanan yang lebih lengang. Maya duduk kaku di jok belakang, gaun hitamnya yang anggun kini terasa seperti belenggu, setiap hiasan di tubuhnya bagaikan pemberat. Pernyataannya tadi—sebuah dusta besar—masih menggantung di udara, mencekiknya pelan. Bagaimana ia bisa mengusir orang-orang yang mulai memberinya kehidupan?
Ia menatap ke luar jendela. Wajahnya yang tebal dengan riasan sempurna terasa seperti topeng yang akan segera ia copot. Perannya sebagai ‘Maya sang pendamping’ sebentar lagi selesai, dan ‘Maya ibu kos’ akan kembali muncul. Dua dunia yang bertabrakan, perlahan mulai meremukkan batas-batas kewarasannya.
Setibanya di rumah, pintu yang ia tutup perlahan menyambutnya dengan bisikan samar dari kamar-kamar yang kini terisi. Suara ketukan keyboard Ardi masih terdengar samar, diiringi alunan musik lo-fi yang pelan dari kamar Raka. Bahkan dengkuran halus dari kamar Pak Bimo terasa mengisi kekosongan. Aroma rempah Kari Anti Galau Pak Bimo masih tertinggal kuat di udara, bercampur wangi jeruk dari pengharum ruangan di ruang tamu. Ini bukan lagi sunyi. Ini adalah rumah yang mulai bernapas, bahkan di malam hari.
“YA AMPUN, RAKA!” suara Maya menggelegar dari kamar mandi keesokan paginya, tepat saat azan Subuh masih bergema. Ia baru saja masuk kamar mandi utama, dan pemandangan di dalamnya membuat amarahnya seketika menyembur.
“Apa sih, May! Masih pagi juga udah galak,” sahut Raka dari kamarnya, beberapa detik kemudian. Dengan santai, dia muncul di ambang pintu, rambut gondrongnya basah kuyup sehabis keramas. Ia menggaruk kepalanya, kemudian menunjuk ke arah Pak Bimo yang sedang melintas di tangga menuju lantai bawah. “Kan tadi Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu pada rebutan duluan.”
Maya melotot, menunjuk wastafel yang penuh busa sabun bekas Raka. Ada juga odol yang berceceran di tepi wastafel. “Bapak-bapak siapa? Cuma Pak Bimo yang bangun pagi. Ini odol kok sampai netes-netes di wastafel? Kotor semua! Ini kan kamar mandi umum! Nanti kamu kalau mandinya siang, air di bak mandinya kering kerontang kamu biarkan. Tidak sopan sekali! Ingat ada empat orang yang mau pakai!"
"Aduh, iya nanti saya bersihin! Bentar, saya ambil handuk," Raka langsung melesat lagi masuk kamarnya, menghindari ceramah Maya. Dia tidak mengira Maya seproduktif ini kalau marah-marah di pagi hari.
Pak Bimo muncul dari kamarnya, wajahnya sumringah dan bersemangat. "Selamat pagi, Mbak Maya. Selamat pagi, Nak Raka. Sudah semangat pagi ini?"
“Pagi, Pak Bimo,” Maya menjawab, masih sambil melototi noda odol. “Pagi Bapak kayaknya berlebihan semangatnya.”
“Oh, tentu saja! Kan mau bikin Omelet Surga Anti Badai! Tadi saya habis bangun sudah langsung ke pasar subuh-subuh,” Pak Bimo tersenyum lebar. “Wah, nanti Nak Ardi bisa cobain! Kata dia omelet saya berani rasanya, kan?”
Suara ketukan halus terdengar dari kamar nomor tiga, dan pintu kamar Ardi sedikit terbuka. Ia mengintip keluar, mata sedikit merah namun jelas-jelas tertarik dengan bau masakan yang mulai menyeruak dari dapur.
“Eh, Nak Ardi! Pagi!” Pak Bimo ceria. “Pas sekali, sarapan sudah menanti! Hari ini spesial! Omelet isi udang keju sama… keripik bawang renyah!”