Darah Maya berdesir panas, meluncur deras ke pipinya. Matanya melotot tajam, menyorot Dimas yang justru terlihat santai dengan raut puasnya. Garpu di tangannya bergemertak. Ia menatap Raka yang kebingungan.
“Apa? Apa yang menarik? Aku nggak punya urusan apa-apa, kok!” ketus Maya, berusaha menahan suara agar tidak pecah. Jemarinya mencengkeram tepi meja.
“Tuh, kan! Ketahuan. Udah pulang subuh, nggak bilang-bilang sama kita, eh, ternyata lagi ngumpetin sesuatu, ya, May?” Raka melotot ke arahnya, nada bicaranya mulai diselimuti tuduhan. “Gimana kalau beneran ada pacar gelap? Terus aku ditinggal? Apa kabarku, Pak Bimo, sama si Ardi?”
Pak Bimo menghela napas, ia meletakkan garpu perlahan di piring. “Sudah, Nak Raka, jangan ikutan mancing-mancing. Jangan ikut-ikutan penasaran. Mbak Maya itu punya hak untuk privasinya.” Ia melirik Maya, senyum tipisnya menenangkan.
“Betul kata Pak Bimo,” timpal Ardi lirih, yang sejak tadi hanya menjadi pengamat, suaranya pelan dan tak yakin. Ardi mencoba mencairkan suasana. "Nanti Kak Raka yang jadi hantu sendiri, kalau ditinggal kak Maya."
Dimas tertawa, namun kali ini tawanya tak riang. Ada nuansa lain. “Bukan masalah privasi, Pak Bimo. Masalahnya, kadang privasi itu menyangkut bahaya,” ujarnya, tatapannya kini serius, sepenuhnya tertuju pada Maya. “Kalau itu hal menarik yang bahaya, gimana? Apa kalian siap lihat Maya nanti malah celaka?”
Mendengar Dimas bicara seperti itu, Maya semakin kalut. Perkataan Dimas, entah kenapa, lebih menusuk dibanding candaan Raka atau kekhawatiran Pak Bimo. Ia menelan ludah. Ini bukan sekadar tebakan iseng, Dimas seperti tahu sesuatu.
“Maksudmu apa, Dimas?” Maya berkata tajam, nyaris seperti dengusan. “Nggak usah bikin drama pagi-pagi gini, bisa nggak sih?”
“Saya nggak bikin drama, Maya,” balas Dimas, kini nadanya lebih rendah, hampir merajuk. Ia menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. “Cuma kan… rumah ini, udah mulai berisik. Berisik sama cerita, berisik sama tawa. Tapi Maya sendiri kok… tetap sunyi soal diri Maya.”
“Dih, sok tahu!” Raka mencebik, menyikut lengan Dimas. “Lagian kayak lu sendiri gak punya rahasia, Mas! Kalau udah malam aja keluyuran entah ke mana. Bilangnya ngejar janda.”
Dimas terkekeh, menggeleng. “Saya nggak punya rahasia, Raka. Paling juga utang di warung pojok belum bayar.” Ia sengaja bicara blak-blakan. “Justru itu, kita kan mulai hidup bareng. Ibarat kata ini rumah tangga baru. Masak nggak ada keterbukaan sama sekali? Lagian kenapa kamu tahu saya kalau malam? Kamu itu penguntit, Raka?”
“Bukan nguntit, saya itu suka curi dengar kalau kamu ngobrol di luar rumah sama ibu-ibu gosip!” Raka protes keras, membuat Pak Bimo dan Ardi nyengir. “Kan kamu juga kayak tukang pos kalau sore. Tiba-tiba diantar mbak-mbak seksi, ngasih surat pinjaman online. Apa itu, May?!”