Kontrakan Paling Berisik di Dunia

freza nur fauzi
Chapter #9

Cacat masing-masing

"Gini lho, May..." Dimas memulai lagi, suaranya melunak sedikit. Dia mencondongkan tubuh ke depan, matanya fokus. "Aku sama Raka itu biangnya usil. Pak Bimo itu... baik hati, suka ngasih makan macem-macem. Ardi pendiem. Tapi kita itu udah tahu 'cacat' kita masing-masing. Udah pada tahu kejelekan satu sama lain."


Raka mengangguk pelan, membuang napas berat. "Iya, May. Aku juga... maafin tadi ngomel ke Bapak, aku... nggak bermaksud bikin Bapak sedih soal restoran Bapak."


"Nggak apa-apa, Nak Raka. Sudah masa lalu kok. Namanya juga hidup," sahut Pak Bimo, menenangkan Raka, namun matanya masih sesekali melirik Maya.


Maya menunduk, menatap omelet di piringnya yang kini terasa dingin. Kerongkongannya tercekat. Bagaimana dia bisa menjelaskan dunia gelapnya, hidupnya yang penuh belenggu kepada orang-orang lugu yang baru saja berani mengakui ‘kegagalan’ mereka? Dunia Arya terlalu brutal, terlalu kejam untuk bisa dipahami oleh kehangatan meja makan ini.


"May?" Dimas kembali memanggil. Ada sentuhan kelembutan dalam suaranya yang jarang Maya dengar. "Kalau belum bisa cerita... ya nggak usah dipaksain."


"Jangan sok tahu kamu, Dimas," ketus Maya, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. Ia mengangkat pandangannya, menatap Dimas dengan tajam. "Aku nggak ada apa-apa kok."


Dimas menatapnya tanpa berkedip. Tatapannya menembus topeng tipis yang coba Maya pasang. "Maya... semua orang juga gitu. Kamu nggak usah khawatir."


Ardi, yang duduk di samping Raka, tiba-tiba memberanikan diri. "Mbak Maya... dulu aku juga gitu. Nggak mau cerita ke siapa-siapa. Tapi... jadi lega rasanya kalau ada yang mau dengerin."


"Iya, Maya," sambung Raka, mengangguk setuju. "Kita kan satu rumah. Kita kan 'keluarga' nih ceritanya."


Kata "keluarga" itu bagaikan anak panah yang menusuk hatinya. Keluarga. Suatu konsep yang sudah lama tidak berani ia sentuh, kini justru disematkan oleh sekelompok orang asing yang—ironisnya—justru memahami arti luka. Mereka yang 'gagal' tapi jujur.


"Sudah. Cukup," Maya menekan suaranya, memaksanya menjadi datar. Ia mendorong kursinya sedikit mundur. "Aku mau beres-beres. Kalian makan saja. Pak Bimo, makanannya jangan cuma buat yang lain, Bapak juga makan. Ardi, habis ini istirahat saja."


"Lho, May! Baru juga ngumpul begini!" Raka protes. "Nanti omelanku belum keluar semua."


"Ada-ada saja, Raka," Dimas menyikut lengan Raka. Ia menatap Maya, ekspresinya sulit dibaca. Ada sedikit kekecewaan di sana, tapi juga sebuah tekad yang diam. Seolah-olah Dimas tahu bahwa pertanyaan itu tidak bisa dijawab di sana, saat itu juga.


Maya melengos ke dapur, menghindari tatapan mereka semua. Ia sibuk membereskan piring-piring, meski tangannya terasa gemetar. Udara di rumah ini masih terasa hangat, tapi bagi Maya, sebuah dinding baru telah berdiri di antara dirinya dan mereka. Dinding yang tak kasat mata, dibangun dari ketakutan dan rahasianya. Rumah ini terasa damai, terlalu damai untuk menyimpan kegelapan yang sedang ia alami.

Lihat selengkapnya