Gaun biru mahal itu terasa membekukan di kulitnya, seiring langkah kaki Maya menginjak ubin dingin di teras rumah. Jam dinding menunjuk angka setengah dua belas malam. Jantungnya masih berdegup kencang, memikirkan setiap kata dingin dari Arya. Perlahan, Maya menyentuh permukaan kayu kusen yang usang, mengelus dengan perasaan gamang. Rumah ini. Sebuah kehangatan yang baru ia rengkuh, kini terancam direnggut. Ia menekan pegangan pintu, memutar kuncinya perlahan, menghindari suara berisik.
Di dalam, hening. Tapi itu bukan hening yang dulu mencekamnya. Ada napas dari kamar-kamar di lantai atas, tanda bahwa rumah ini tidak lagi kosong. Samar, terdengar desisan pelan dari earphone Raka yang mungkin tertinggal di bantal, atau dengkuran Pak Bimo yang khas. Setiap suara adalah sebuah penawar, sekaligus sebuah bom waktu. Maya tahu. Ia harus melakukan apa yang diminta Arya, demi mereka.
Seketika itu, Raka muncul dari kegelapan lorong di lantai atas. Dengan wajah mengantuk dan rambut yang lebih acak-acakan dari biasanya, ia menyeret langkahnya menuju dapur. Pria itu memakai celana pendek kolor dan kaus oblong. Maya tersentak, terkesiap. Ia lupa kalau rumah ini kini selalu punya 'mata'.
"Lho, May?" Raka berhenti tepat di tangga, menatap Maya dari atas ke bawah. Ekspresi kantuknya seketika lenyap berganti bingung, bahkan sedikit terkejut. "Udah pulang? Kamu... habis kondangan ya? Malam-malam begini."
Maya menggenggam tas tangannya erat-erat, perhiasan di pergelangan tangannya terasa panas. Ia harus berbohong. Cepat. "Ah, Raka. Kenapa belum tidur? Iya, saya baru pulang. Ada urusan sedikit dengan... teman lama."
"Teman lama? Sampai pakai gaun kayak gini? Perasaan tadi sore... masih pakai piama santai deh," Raka menunjuk gaun malam biru yang berkilau terkena pantulan cahaya lampu dapur. Mata Raka, meskipun terlihat sayu, tampak lebih tajam dari sebelumnya.
"Apaan sih kamu. Nggak usah ngurusin saya. Saya capek, mau istirahat," Maya berkata ketus, melangkah cepat menuju kamarnya. Ia merasakan detak jantungnya menggila. Raka terlalu jeli.
"Kok buru-buru?" Raka menyusul dengan langkah gontai. "Oh iya, tadi Mas Dimas... bilang katanya ada yang aneh. Makanya dia lewat juga agak malam. Nggak sengaja nyemil sama penjual sate depan komplek."
Maya berhenti di depan pintu kamarnya, punggungnya terasa kaku. Dimas lagi. "Aneh apa lagi? Dia kan memang selalu aneh."
"Nggak tahu, pokoknya 'aneh'," Raka menirukan gaya bicara Dimas. Ia mengedikkan bahu. "Udah deh, aku mau ke dapur. Perut keroncongan." Raka akhirnya melenggang ke dapur, tapi Maya bisa merasakan tatapan Raka masih melekat di punggungnya, bahkan setelah ia menutup pintu.
Ia menghela napas panjang, bersandar di pintu yang dingin. Ancaman dari Arya terasa nyata. Raka sudah melihatnya. Dan Dimas? Dimas selalu punya cara untuk mengetahui apa yang tidak seharusnya ia ketahui.
Keesokan harinya, Maya berusaha menjaga jarak. Ia tidak ingin terlalu larut dalam kehangatan palsu yang pada akhirnya hanya akan membahayakan mereka semua. Di meja makan, suasananya sedikit berbeda. Tidak ada tawa renyah dari Maya, hanya arahan-arahan singkat yang lebih mirip perintah. Pak Bimo sesekali melirik Maya, bingung. Raka jelas merasakan perbedaan itu. Hanya Ardi yang tetap tenggelam dalam dunianya, walau kadang menoleh sekilas ke arah Maya.
"Maya, makanannya nggak dimakan?" Pak Bimo menawarkan omelet udang jamur buatannya. "Enak lho ini. Nanti bisa bikin mood baik lagi."
"Saya sudah makan. Pak Bimo saja yang makan," sahut Maya datar, menyeduh teh tanpa melihat ke arah Pak Bimo. Jemarinya yang biasanya luwes memegang teko, kini sedikit kaku.
Raka meletakkan garpu, menciptakan bunyi berisik yang memecah kesunyian canggung. "May, kamu... sakit? Dari tadi pagi kayaknya galak banget. Udah tiga kali manggil nama saya sambil teriak, padahal saya nggak ngapa-ngapain."
"Saya cuma ingatkan kalau barang-barang kamu jangan ditaruh di mana-mana," Maya melirik tajam ke arah tas kuliah Raka yang teronggok di sofa. "Rumah ini bukan gudang. Jangan buat kotor. Kan sudah ada loker khusus buat simpan barang di kamarmu."
"Yah, maaf. Saya kira nggak apa-apa ditaruh situ bentar," Raka mengerucutkan bibirnya. Ia melihat Ardi yang mencoba menyelinap keluar. "Ardi! Mau ke mana?"
"M-mau balik kamar. Kerja lagi," Ardi berbisik, lalu melesat sebelum sempat ditahan Raka.
Suara ketukan familiar terdengar di pintu. Kali ini tanpa aba-aba masuk. "Wih! Sarapan apa nih? Wanginya sampai bikin ngiler!"