KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #1

PROLOG

Tiga puluh dua tahun sebelum kabut pagi itu menyelimuti Kedai Embun Pagi, Kalisumur adalah desa yang jauh lebih kecil, dan Suto Wirasena adalah lelaki berusia tiga puluh tahun dengan kebun kopi seluas hampir lima hektare, istri yang baru mengandung anak pertama mereka, dan keyakinan penuh bahwa kerja keras selalu berbuah setimpal, cepat atau lambat.

Musim itu, hama datang tanpa peringatan. Bukan hama biasa yang bisa diatasi dengan semprotan seadanya, melainkan sesuatu yang menggerogoti buah-buah kopi dari dalam, membuat ceri merah yang seharusnya siap panen justru rontok satu per satu ke tanah, membusuk sebelum sempat dipetik. Dalam waktu kurang dari sebulan, lebih dari separuh kebun Suto rusak parah, dan tabungan kecil yang ia kumpulkan sejak menikah nyaris habis untuk membeli obat-obatan yang, pada akhirnya, tidak banyak membantu.

Pak Sedayu, kakek Prawiro, ayah dari lelaki yang kelak akan dikenal sebagai Sedayu senior, datang sendiri ke kebun Suto pada suatu sore, menawarkan pinjaman dengan senyum yang, di mata Suto muda saat itu, terlihat begitu tulus hingga tidak pernah terpikir olehnya untuk curiga.

"Kita ini tetangga, Suto," katanya waktu itu, tangan besarnya menepuk pundak Suto dengan hangat. "Aku tidak bisa lihat kau dan istrimu kelaparan hanya karena hama sial ini. Anggap saja ini pinjaman antar keluarga, bukan urusan bisnis. Bunga ringan, kau bayar kapan pun kau sanggup."

Suto ingat betul bagaimana ia pulang malam itu dengan hati yang lega, menceritakan kabar baik itu kepada istrinya sambil menangis haru, meyakini bahwa mereka telah diselamatkan oleh kebaikan hati seorang tetangga yang jauh lebih berada. Ia menyembelih seekor ayam keesokan harinya, mengundang beberapa keluarga terdekat untuk makan bersama, mensyukuri pertolongan yang datang di saat paling genting.

Lihat selengkapnya