Kabut turun ke Kalisumur setiap pagi seperti tamu yang tidak pernah lupa datang. Ia menyelinap dari lereng Gunung Raung, merayap di sela-sela pohon kopi yang berbaris rapi, lalu berhenti tepat di atas atap-atap seng rumah penduduk, seakan enggan pergi sebelum matahari benar-benar memaksanya. Di ketinggian seribu dua ratus meter itu, dingin bukan sekadar cuaca. Dingin adalah cara hidup.
Sekar Arum Prameswari sudah terbiasa dengan itu semua sejak umur tujuh tahun, saat pertama kali diajak ayahnya berjalan menyusuri jalan setapak di antara pohon-pohon kopi sebelum subuh, menghitung buah merah yang siap dipetik dengan lampu senter yang cahayanya nyaris kalah oleh kabut. Sekarang, di usia dua puluh delapan, ia tidak lagi memetik ceri kopi. Ia meraciknya.
Kedai Embun Pagi berdiri di ujung jalan utama Kalisumur, satu-satunya bangunan berdinding kayu jati tua yang catnya sudah mengelupas di beberapa sudut, namun justru itulah yang membuatnya terasa hangat. Sekar membukanya tiga tahun lalu, setelah ayahnya meninggal dan warisan sepetak kebun kopi ia putuskan untuk tidak dijual seperti yang disarankan pamannya, melainkan diolah sendiri, dari biji hingga cangkir.
Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, Sekar bangun sebelum ayam berkokok. Ia menyalakan tungku kayu di dapur belakang, mengisi ketel besar dengan air dari sumur, dan mulai menggiling biji kopi hasil sangrai kemarin sore. Aroma yang keluar dari gilingan itu selalu berbeda setiap hari, kadang lebih ke arah cokelat pahit, kadang mendekati aroma buah-buahan kering, tergantung dari kebun mana biji itu berasal dan seberapa lama ia menyangrainya. Hari itu ia memilih biji dari kebun keluarganya sendiri, di lereng utara, yang menurutnya punya karakter paling jujur: asam segar di awal, lalu manis karamel yang tinggal lama di lidah.
Ia menata meja-meja kayu kecil di ruang depan, menyapu lantai yang selalu berdebu meski baru disapu semalam, dan membuka jendela kayu berpanel agar udara pagi—dingin, tajam, bercampur bau tanah basah—bisa masuk. Dari jendela itu ia bisa melihat punggung Gunung Raung yang samar-samar, seperti sketsa arang yang belum selesai digambar, tertutup separuh oleh kabut yang belum sepenuhnya menyerah pada pagi.
Ayahnya, Pak Wisnu, adalah petani kopi generasi ketiga yang lebih percaya pada tanah daripada pada kata-kata orang, bahwa ceri merah harus dipetik satu per satu dengan tangan, bahwa rasa jujur di dalam cangkir selalu bisa dibedakan dari rasa yang dipaksakan. Sekar mewarisi filosofi itu bersama sepetak kebun seluas satu setengah hektare di lereng utara.
Ketika ayahnya meninggal tiga tahun lalu—serangan jantung mendadak saat memeriksa kebun di pagi buta, paman Sekar mendesaknya untuk menjual kebun itu dan pindah ke kota. Sekar menolak. Ia justru mengambil tabungan dari kerjanya sebagai barista di Malang, kembali ke Kalisumur, dan membangun Kedai Embun Pagi dari bekas gudang panen keluarganya yang sudah lama tidak terpakai.
Kalisumur sendiri bukan desa besar, penduduknya tak sampai lima ratus jiwa, dan hampir semuanya bekerja di kebun kopi milik tiga keluarga besar: Prasetyo, tempat sahabat kecil Sekar, Danu, berasal; Kusumo; dan yang terbesar, milik Prawiro Sedayu, yang orang-orang panggil Juragan Prawiro—entah karena hormat, entah karena tidak ada pilihan lain.
Sekar tidak pernah benar-benar dekat dengan Juragan Prawiro. Ia hanya tahu bahwa setiap kali nama itu disebut di warung-warung kecil, nada suara orang-orang berubah sedikit lebih pelan, seperti sedang membicarakan cuaca yang bisa berubah kapan saja.
Pukul enam lewat, pintu kedai ia buka. Dua bangku di teras masih basah oleh embun, dan ia mengelapnya dengan kain sebelum pelanggan pertama datang, Mbah Suto, lelaki tua yang usianya tak seorang pun tahu pasti, yang setiap pagi duduk di bangku yang sama, memesan kopi hitam tanpa gula, dan menghabiskan satu jam hanya untuk menghirup aromanya sebelum benar-benar meminumnya.
"Kabutnya tebal hari ini," kata Mbah Suto, suaranya serak seperti daun kering yang diinjak.
"Selalu begitu kalau musim panen mendekat," jawab Sekar sambil meletakkan cangkir di depannya. "Bapak dulu bilang kabut itu tahu kapan biji-biji itu mau matang."