Danu tidak segera pulang setelah percakapan itu. Ia duduk sebentar di teras kedai, menatap kebun-kebun yang mulai temaram, sementara Sekar membereskan meja-meja yang baru ditinggalkan pelanggan sore.
"Kamu masih simpan buku catatan bapakmu?" tanya Danu tiba-tiba, memecah keheningan.
Sekar berhenti mengelap meja. "Buku yang mana?"
"Yang dia pakai catat hasil panen. Bapak saya cerita, dulu almarhum ayahmu punya cara sendiri mencatat, bukan cuma angka kilogram, tapi juga cuaca, warna tanah, kapan terakhir hujan. Kata Bapak, itu buku paling lengkap soal kebun di Kalisumur, lebih lengkap dari catatan resmi kecamatan mana pun."
Sekar tersenyum kecil, agak terkejut mendengar ayahnya dikenang dengan cara itu. Ia masuk ke kamar belakang kedai, dulu kamar tidurnya sendiri sebelum ia mengubah separuh rumah menjadi dapur kedai, dan kembali membawa sebuah buku tulis lusuh bersampul karton cokelat, halamannya sudah menguning dan sebagian sudut robek dimakan rayap.
"Ini," katanya, meletakkannya di meja di antara mereka berdua. "Saya belum pernah benar-benar baca ulang sejak dia meninggal. Rasanya berat."
Danu membuka halaman pertama dengan hati-hati, seperti khawatir kertas itu akan hancur di tangannya. Tulisan tangan Pak Wisnu rapi meski sederhana, dengan sketsa-sketsa kecil di pinggir halaman, bentuk daun yang menunjukkan tanda serangan hama, garis-garis yang menandai musim hujan dan kemarau, bahkan catatan kecil soal burung apa yang mulai bersarang di kebun pada bulan tertentu, sebagai penanda pergantian musim yang lebih ia percaya daripada kalender.