KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #4

BIJI YANG BERBEDA

Tiga hari setelah kunjungan Danu, Sekar masih menyimpan segenggam biji hijau aneh itu di dalam toples kaca kecil di rak dapur, di antara stoples-stoples lain berisi biji dari berbagai kebun yang biasa ia gunakan untuk membandingkan rasa. Setiap kali matanya melewati rak itu, rasa penasaran itu kembali menggelitik.

Ia bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Tapi kopi adalah urusannya, kopi adalah hidupnya, dan sesuatu yang salah dengan kopi di Kalisumur terasa seperti sesuatu yang salah dengan dirinya sendiri.

Pagi itu, setelah pelanggan-pelanggan awal pulang, Sekar mengambil beberapa biji dari toples itu dan menyangrainya sendiri dalam jumlah kecil, menggunakan wajan tanah liat yang biasa ia pakai untuk eksperimen, wajan yang sama yang dulu dipakai ibunya untuk menyangrai kopi di atas tungku kayu, sebelum kompor gas masuk ke Kalisumur dan mengubah cara hampir semua orang mengolah hasil kebun mereka. Ia menyalakan api kecil, memutar-mutar wajan itu dengan gerakan memutar yang sudah menjadi refleks di tangannya, mendengarkan suara khas "krak" pertama ketika biji-biji mulai retak akibat panas, suara yang oleh para peracik kopi disebut first crack, tanda bahwa biji sudah mulai melepaskan gas dan aroma yang tersembunyi di dalamnya. Ia ingin tahu rasa sesungguhnya, bukan sekadar aroma biji mentah yang bisa menipu penciuman siapa pun yang tidak terlatih.

Selama menyangrai, ia memperhatikan warna biji itu berubah lebih cepat dari biasanya, dari hijau pucat menjadi cokelat muda dalam waktu yang menurutnya terlalu singkat, seolah biji itu punya kandungan kelembapan yang berbeda dari kopi arabika Kalisumur yang biasa ia kenal. Kejanggalan kecil semacam itu, bagi orang awam, mungkin tak berarti apa-apa. Tapi bagi Sekar, yang sudah menyangrai ribuan kilogram biji kopi sepanjang tiga tahun terakhir, itu adalah tanda bahwa biji ini datang dari tempat yang tumbuh dalam kondisi berbeda, ketinggian berbeda, curah hujan berbeda, mungkin bahkan spesies yang berbeda sama sekali.

Hasilnya membuatnya semakin bingung. Setelah disangrai, biji itu menghasilkan rasa yang jauh lebih kompleks dari kopi robusta biasa yang kadang tercampur di kebun-kebun rendah, ada sentuhan rempah yang tidak lazim, sesuatu yang menurut instingnya sebagai peracik bukan berasal dari proses alami pengolahan pascapanen, melainkan dari sesuatu yang ditambahkan.

"Ini bukan cuma salah kirim," gumamnya sendiri, menatap ampas kopi di dasar cangkir kecil yang ia gunakan untuk mencicipi.

Ia mencatat hasil pengamatannya di buku kecil yang biasa ia gunakan untuk mencatat karakter setiap kebun, kebiasaan yang ia warisi dari ayahnya, yang dulu selalu bilang bahwa lidah bisa lupa, tapi tulisan tidak. Halaman itu, yang biasanya berisi catatan seperti "kebun utara: asam jeruk, karamel, after-taste panjang" atau "kebun keluarga Prasetyo: floral, ringan, cocok untuk light roast," kini bertambah satu baris baru yang terasa berbeda dari semua catatan sebelumnya: "biji tak dikenal, ditemukan di gudang Prasetyo, rasa aneh, kemungkinan tercampur bahan lain, perlu tanya Mbah Suto."

Ia memutuskan untuk bertanya kepada satu-satunya orang di Kalisumur yang mungkin tahu lebih banyak soal sejarah kebun-kebun di sini: Mbah Suto.

Sore itu, alih-alih menunggu lelaki tua itu datang ke kedai seperti biasa, Sekar berjalan ke rumahnya, sebuah gubuk kecil di ujung dusun yang dikelilingi pohon kopi liar yang sudah tidak terawat, sisa-sisa kebun keluarga Mbah Suto yang katanya dulu pernah menjadi salah satu yang terbesar di Kalisumur, sebelum entah bagaimana caranya berpindah tangan ke keluarga Sedayu tiga generasi lalu.

Mbah Suto sedang duduk di depan gubuknya, menganyam tikar dari daun pandan kering, ketika Sekar tiba.

"Ada apa, Nak? Tidak biasanya kamu datang kemari," katanya tanpa menoleh, seakan sudah tahu siapa yang datang hanya dari suara langkah kaki.

Sekar duduk di bangku bambu di sampingnya, menyodorkan sedikit biji kopi yang sudah ia sangrai dalam kantong kecil. "Saya ingin tanya soal ini. Danu menemukannya tercampur di gudang kebun keluarganya. Bukan kopi biasa."

Mbah Suto mengambil beberapa biji, mengendus, lalu meletakkannya di telapak tangannya yang penuh kerutan seperti sedang menimbang sesuatu yang tak kasat mata. "Ini varietas dari lembah selatan. Dulu, sebelum tanah di sini dikuasai satu-dua keluarga, ada banyak jenis kopi yang ditanam berdampingan. Tapi sejak sistem pengepulan terpusat, semua kebun kecil dipaksa menanam varietas yang sama, yang katanya lebih ‘efisien’ untuk dijual." Ia mendengus pelan, seperti kata itu meninggalkan rasa pahit di mulutnya. "Kalau ada biji seperti ini muncul di gudang seseorang, itu berarti seseorang sedang mencampur sesuatu yang tidak seharusnya bercampur."

Lihat selengkapnya