Broto Handoyo kembali ke Kedai Embun Pagi tepat pukul sepuluh pagi, jauh lebih siang dibandingkan kunjungan pertamanya kemarin, membawa kamera kecil selain tas kulitnya yang biasa. Ia sempat berhenti di depan kedai untuk memotret papan nama kayu yang tergantung di atas pintu, lalu memotret deretan pohon kopi di kebun kecil di belakang kedai yang sengaja Sekar pertahankan sebagai semacam kebun percontohan bagi para pengunjung yang penasaran dari mana biji kopi mereka berasal.
"Maaf, saya kagum saja," katanya sambil menyimpan kembali kameranya begitu melihat Sekar memperhatikan dari ambang pintu. "Tidak banyak kedai kopi di daerah penghasil yang benar-benar menunjukkan prosesnya dari awal seperti ini. Kebanyakan hanya menjual biji mentah ke pengepul, dan penduduknya sendiri jarang benar-benar mencicipi hasil kebun mereka dalam bentuk yang sudah jadi."
"Kami selalu punya kebiasaan minum kopi sendiri sejak dulu," jawab Sekar. "Cuma dulu caranya sederhana, diseduh tubruk dengan gula aren, diminum sambil istirahat di kebun. Bukan seperti sekarang."
"Justru itu yang menarik," kata Broto sambil duduk di meja dekat jendela, meja yang sama tempat Mbah Suto biasa duduk setiap pagi. "Ada jarak besar antara bagaimana petani menikmati kopi mereka sendiri, dan bagaimana kopi itu akhirnya sampai ke tangan konsumen di kota-kota besar, apalagi di luar negeri. Semakin panjang jaraknya, semakin banyak ruang untuk sesuatu berubah di tengah jalan, kualitasnya, harganya, bahkan asal-usulnya."
Ia memesan tiga jenis kopi berbeda: satu dari kebun keluarga Sekar sendiri, satu dari kebun keluarga Prasetyo, dan satu, setelah sedikit ragu, dari stok umum yang biasa dijual ke pengepul besar.
"Yang terakhir itu agak susah saya dapatkan tanpa lewat gudang pengepulan," kata Sekar sambil menyeduh. "Semua hasil kebun kecil biasanya langsung dikirim ke sana sebelum sempat dijual eceran."
"Itu justru yang paling menarik bagi saya," jawab Broto, mengeluarkan buku catatan kecil bersampul kulit dari tasnya. Ia mulai mencatat sesuatu, tulisan tangannya kecil dan rapi, sebelum mengangkat wajah lagi. "Saya sudah beberapa kali berurusan dengan sistem pengepulan seperti ini di berbagai daerah. Kadang berjalan adil. Kadang tidak."
"Maksud Bapak?"
Broto tersenyum tipis, seperti seseorang yang memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. "Saya kira Anda, sebagai pemilik kedai di sini, cukup tahu bagaimana harga dan timbangan bekerja di Kalisumur."
Sekar meletakkan cangkir kopi pertama di depannya, memilih untuk tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu siapa Broto Handoyo sesungguhnya, dan naluri lamanya sebagai anak petani mengajarkan bahwa orang kota yang datang membawa pertanyaan terlalu tepat sasaran biasanya sedang mencari sesuatu yang spesifik, bukan sekadar cita rasa kopi.
Ia memperhatikan cara Broto memegang cangkir, dengan dua jari di gagang, tiga jari lainnya menopang dasar cangkir, gerakan yang menunjukkan seseorang yang sudah mencicipi ribuan cangkir kopi dari ratusan daerah berbeda, bukan sekadar peminum biasa. Tasnya, meski terlihat sederhana, terbuat dari kulit asli yang sudah dipakai lama namun dirawat dengan baik. Sepatunya berlumpur di bagian ujung, tanda ia sudah berjalan menyusuri jalan setapak menuju beberapa kebun sebelum sampai di kedai. Semua detail kecil itu, yang biasanya luput dari perhatian orang lain, tidak luput dari mata Sekar yang terlatih membaca pelanggan dari cara mereka bergerak, dari kebiasaan bertahun-tahun melayani orang-orang yang datang dan pergi di kedainya.
"Saya cuma meracik kopi, Pak," katanya akhirnya. "Soal harga dan timbangan, itu urusan pengepul dan para petani."
"Tentu, tentu." Broto mengangguk, lalu mengangkat cangkir pertama, menghirup aromanya lama sebelum menyesap sedikit. Matanya sedikit terbelalak, seperti terkejut oleh sesuatu yang tak ia duga. "Ini luar biasa. Manis alami, dengan sedikit rasa jeruk di ujungnya. Dari kebun Anda sendiri?"
"Betul."
"Dan yang ini?" Ia menunjuk cangkir kedua, dari kebun keluarga Prasetyo.
Sekar menjelaskan sedikit tentang proses pengolahan yang dipakai Danu dan keluarganya, metode semi-wash yang mereka pertahankan turun-temurun, berbeda dari kebanyakan kebun besar yang beralih ke metode yang lebih cepat namun menurut Sekar mengorbankan kompleksitas rasa. Broto mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat, sesekali mengangguk seperti membenarkan sesuatu yang sudah ia curigai sebelumnya.
"Menarik," katanya, lebih kepada catatannya sendiri daripada kepada Sekar. "Kalau diceritakan dengan benar ke pembeli internasional, petani kecil, metode tradisional, keluarga turun-temurun, cerita seperti ini bisa menaikkan harga jual dua sampai tiga kali lipat. Pembeli luar negeri suka sekali narasi semacam itu." Ia tersenyum tipis, seperti baru menyadari bagaimana kalimat itu terdengar. "Maksud saya, tentu itu juga adil untuk petaninya. Cerita yang bagus dan harga yang adil biasanya berjalan beriringan."
Sekar mengangguk, meski nada kalimat pertama Broto, cara ia bicara soal kisah hidup Danu dan keluarganya seolah semata-mata bahan pemasaran, sebelum buru-buru menambahkan bahwa itu juga "adil", terasa sedikit mengganjal, meski ia tidak bisa menjelaskan dengan tepat kenapa.