Rumah besar Prawiro Sedayu berdiri di titik tertinggi Kalisumur, dikelilingi pagar batu yang dibangun kakeknya puluhan tahun lalu, menghadap langsung ke hamparan kebun kopi yang membentang sejauh mata memandang, semua miliknya, atau setidaknya, semua yang ia kelola atas nama keluarga-keluarga kecil yang sudah lama kehilangan kendali penuh atas hasil panen mereka sendiri.
Malam itu, di ruang kerjanya yang temaram hanya oleh lampu minyak dan satu bola lampu yang menyala redup akibat genset yang mulai tua, Prawiro duduk di balik meja kayu besar, menatap tumpukan buku catatan yang selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya bukti tertulis dari sistem yang telah ia bangun dengan hati-hati, sistem yang, jika dibongkar, akan meruntuhkan segalanya.
Istrinya, Bu Wening, sudah lama tertidur di kamar sebelah, tidak tahu-menahu tentang apa yang bergejolak di ruang kerja suaminya. Prawiro selalu berusaha menjaga rumah tangganya jauh dari urusan gudang dan pembukuan, Bu Wening mengenalnya sebagai suami yang pekerja keras, ayah yang bertanggung jawab, tokoh masyarakat yang dihormati, bukan sebagai seseorang yang setiap malam duduk sendirian menghitung selisih angka yang tidak seharusnya ada. Kadang, di saat-saat langka ketika ia membiarkan dirinya jujur pada diri sendiri, Prawiro bertanya-tanya apakah istrinya benar-benar tidak tahu apa-apa, atau hanya memilih untuk tidak bertanya, sebuah kompromi diam-diam yang sudah berjalan begitu lama sehingga terasa seperti bagian alami dari pernikahan mereka.
Ia sudah mendengar kabar kedatangan Broto Handoyo sejak siang, dari salah satu mandornya yang melihat mobil pick-up asing itu berhenti di depan Kedai Embun Pagi. Nama Broto Handoyo bukan nama baru baginya, ia sudah tahu, sejak dua bulan lalu, bahwa seorang eksportir dari kota mulai mengajukan pertanyaan tentang catatan volume ekspor kopi dari Kalisumur, pertanyaan yang terlalu detail untuk sekadar basa-basi bisnis.
Prawiro membuka salah satu buku catatan, jarinya menyusuri kolom-kolom angka yang ditulis tangan, angka yang, jika dibandingkan dengan luas kebun terdaftar dan hasil panen wajar, tidak akan pernah masuk akal.
Ia teringat masa mudanya, ketika ayahnya pertama kali mengajaknya duduk di ruang kerja yang sama ini, menunjukkan buku-buku catatan yang sama, dengan nada bangga yang waktu itu ia kagumi tanpa pertanyaan. "Ini yang akan kau warisi kelak, Prawiro," kata ayahnya waktu itu, "bukan cuma tanah, tapi cara mengelolanya supaya tidak pernah berkurang, hanya bertambah." Kata-kata itu terdengar seperti kebijaksanaan seorang ayah kepada anaknya saat itu. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, kata-kata yang sama terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih gelap, sebuah warisan bukan cuma tanah dan kekayaan, tapi juga cara berpikir yang membenarkan apa pun demi mempertahankan keduanya. Selama bertahun-tahun, ia telah mencampurkan hasil dari kebun-kebun kecil di Kalisumur dengan kopi murah dari daerah lain, memberi label "Kalisumur premium" pada campuran itu, dan menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi ke para eksportir yang tidak pernah repot memeriksa lebih jauh. Selisihnya, selisih besar yang tak pernah dibagikan kepada para petani kecil yang timbangannya selalu "kebetulan" lebih ringan dari yang mereka kira, masuk ke rekening pribadinya.
Itu bukan satu-satunya rahasia yang tersimpan dalam buku-buku itu. Ada juga catatan tentang bagaimana ia, tiga puluh tahun lalu, memperoleh sebagian besar tanah kebunnya sekarang, termasuk tanah keluarga Mbah Suto, melalui utang-utang yang sengaja ia buat sulit dilunasi, bunga yang diam-diam ia naikkan setiap tahun tanpa sepengetahuan pihak yang berutang, hingga akhirnya tanah itu "terpaksa" berpindah tangan sebagai bentuk pelunasan.
Prawiro tidak pernah menganggap dirinya sebagai penjahat. Dalam benaknya, ia hanyalah seseorang yang lebih pandai bermain dalam sistem yang memang keras sejak awal, sistem yang diwariskan Belanda, dilanjutkan oleh negara yang tak pernah benar-benar hadir membela petani kecil, dan dipertahankan oleh pasar yang selalu menuntut harga rendah dengan kualitas tinggi. Ayahnya dulu mengajarinya satu prinsip yang ia pegang teguh: tanah tidak akan pernah cukup untuk semua orang, Nak, maka pastikan kau yang memilikinya, bukan orang lain. Prinsip itu membuatnya bisa tidur nyenyak setiap malam selama bertahun-tahun, meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan hanyalah kecerdasan bisnis, bukan pengkhianatan terhadap tetangga-tetangganya sendiri.
Tapi ada satu bagian dari dirinya, bagian kecil yang jarang ia biarkan bersuara, yang tahu persis bahwa alasan itu semakin lama semakin terasa seperti kebohongan yang ia ceritakan pada dirinya sendiri setiap kali melihat wajah lelah para petani yang mengantarkan hasil panen ke gudangnya, menerima bayaran yang mereka tahu tidak sepenuhnya adil namun tidak punya pilihan lain untuk menolak.
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Pak, ada tamu," kata seorang pembantu rumah tangga dari balik pintu.
"Siapa? Sudah malam begini."