KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #7

MAYAT DI KEDAI

Keesokan paginya, Kalisumur diselimuti kabut yang lebih tebal dari biasanya, seakan gunung sedang menahan napas untuk sesuatu yang akan terjadi. Sekar membuka kedai seperti biasa, meski semalaman ia sulit tidur, pikirannya terus berputar pada percakapan dengan Broto Handoyo dan cara Mbah Suto berbicara tentang tanah yang berpindah tangan.

Ia sempat terbangun dua kali menjelang subuh, sekali karena mimpi yang tidak jelas bentuknya namun meninggalkan rasa cemas yang menempel di dada, dan sekali lagi karena suara angin yang mengetuk-ngetuk jendela kamarnya lebih keras dari biasa. Ketika akhirnya ia menyerah untuk tidur lagi dan bangun lebih awal dari jadwal biasanya, langit di luar masih gelap pekat, hanya kabut tebal yang tampak berkilau samar di bawah cahaya satu-satunya lampu jalan di ujung dusun.

Ia menyiapkan kedai dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya, tangannya sesekali berhenti di tengah pekerjaan hanya untuk menatap kosong ke arah toples biji kopi aneh yang kini tersimpan di laci terkunci meja kasir. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak semalam, semacam firasat yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika, hanya bisa ia rasakan seperti udara sebelum hujan deras, berat, tegang, menunggu sesuatu untuk pecah.

Mbah Suto datang lebih awal dari biasanya, duduk di bangku favoritnya, tapi kali ini tidak langsung memesan kopi hitam seperti setiap pagi.

"Ada yang mengganjal pikiranku semalam," katanya, sebelum Sekar sempat bertanya. "Aku dengar tamu dari kota itu ke rumah Prawiro tadi malam."

"Bapak dengar dari mana?"

"Kalisumur desa kecil, Nak. Angin pun tahu siapa yang keluar-masuk rumah siapa." Mbah Suto menatap ke luar jendela, ke arah kabut yang masih menutupi separuh jalan. "Aku cuma berharap orang kota itu tahu apa yang sedang ia lawan."

Sekar tidak sempat bertanya lebih jauh, karena tak lama kemudian pintu kedai terbuka dan Broto Handoyo melangkah masuk, membawa tas kulitnya seperti biasa, wajahnya tampak lelah namun tetap tersenyum sopan.

"Selamat pagi, Nona Sekar," katanya, duduk di meja yang sama seperti hari sebelumnya. "Maaf datang pagi-pagi. Saya ingin mengambil beberapa sampel tambahan sebelum kembali ke kota siang ini."

"Tentu, Pak. Kopi seperti biasa?"

Lihat selengkapnya