KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #8

DETEKTIF WULAN TIBA

Mobil patroli tiba di Kalisumur empat puluh menit kemudian, waktu yang di kepala Sekar terasa seperti empat jam. Dua orang turun dari mobil itu, seorang polisi muda berseragam yang segera memasang garis kuning di sekeliling kedai, dan seorang perempuan berjaket lapangan gelap dengan tas kerja tersampir di bahu, langkahnya cepat dan pasti, matanya langsung menyapu seluruh ruangan begitu ia melangkah masuk sebelum sempat memperkenalkan diri.

"Detektif Ratri Wulandari," katanya singkat, menunjukkan kartu identitasnya kepada Sekar tanpa banyak basa-basi. "Anda yang menemukan korban?"

Wulan sudah tujuh tahun bertugas di kepolisian, lima tahun terakhir sebagai penyidik di unit reserse kriminal Polres yang wilayah kerjanya mencakup Kalisumur dan belasan desa lain di kaki Gunung Raung. Ia dikenal di antara rekan-rekannya bukan karena bicara paling banyak atau paling keras dalam rapat, melainkan karena caranya memperhatikan detail-detail kecil yang sering luput dari orang lain, posisi sepatu di tempat kejadian, arah bayangan pada jam tertentu, jeda antara satu kalimat dan kalimat berikutnya dalam keterangan seorang saksi. Rekan-rekannya kadang bercanda bahwa Wulan bisa menghabiskan sepuluh menit hanya menatap satu ruangan sebelum bicara sepatah kata pun, tapi tak seorang pun pernah meragukan hasil kerjanya.

"Saya... ya," jawab Sekar, suaranya masih bergetar. "Nama saya Sekar. Saya pemilik kedai ini."

Wulan mengangguk, matanya berpindah dari wajah Sekar ke tubuh Broto Handoyo yang masih tergeletak di lantai, lalu ke cangkir kopi yang sudah tumpah sebagian di dekatnya, lalu ke buku catatan yang masih terbuka di meja. Ia tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia justru berjongkok di dekat tubuh, memeriksa posisi jatuhnya, warna kulit wajah, kondisi mulut yang sedikit berbusa, tanpa menyentuh apa pun.

Ia memperhatikan posisi tangan kanan korban yang masih setengah menggenggam, seolah refleks terakhir tubuhnya adalah mencoba meraih sesuatu, mungkin meja, mungkin tenggorokannya sendiri, sebelum kesadaran itu benar-benar hilang. Ia juga memperhatikan bahwa kursi tempat Broto duduk terletak agak jauh dari posisi tubuhnya sekarang, menunjukkan bahwa ia sempat berusaha berdiri atau meraih sesuatu sebelum akhirnya ambruk sepenuhnya, detail kecil yang nantinya, dikombinasikan dengan keterangan dr. Yudo soal kecepatan reaksi racun, akan membantu menyusun ulang detik-detik terakhir kehidupan korban.

"Farhan," katanya kepada polisi muda yang baru selesai memasang garis kuning, "hubungi tim forensik dari kota kecamatan. Bilang kita butuh mereka secepatnya, dan jangan biarkan siapa pun keluar-masuk kedai ini sebelum mereka tiba."

"Siap, Bu."

Bripda Farhan baru dua tahun bertugas, dan ini adalah kasus kematian tak wajar pertama yang ia tangani langsung bersama Detektif Wulan. Ia berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, meski tangannya sedikit gemetar saat mengetik nomor tim forensik di ponselnya, sesuatu yang tidak luput dari perhatian Wulan, yang melirik sekilas ke arahnya dengan ekspresi yang bukan mengejek, melainkan seperti mengingatkan diri sendiri pada masa ketika ia pun masih baru dan gugup menghadapi tempat kejadian pertama kalinya.

"Tarik napas dulu, Farhan," katanya pelan, cukup lembut sehingga hanya Farhan yang mendengar. "Kita butuh kepala yang jernih, bukan kepala yang panik. Korban tidak akan lebih hidup kalau kita ikut panik."

Farhan mengangguk, menelan ludah, dan melanjutkan panggilannya dengan suara yang sedikit lebih stabil.

Wulan berdiri, melepas sarung tangan lateks yang baru saja ia pakai untuk memeriksa saku korban tanpa memindahkan posisinya, dan berbalik menghadap Sekar. "Ceritakan semuanya dari awal. Sedetail mungkin. Jangan lewatkan apa pun, meski menurut Anda tidak penting."

Sekar menarik napas panjang, mencoba menata pikirannya yang masih kacau. Ia menceritakan bagaimana Broto Handoyo datang pagi itu, memesan kopi seperti hari sebelumnya, bagaimana ia sempat meninggalkan seduhan itu di dapur selama beberapa menit untuk melayani pelanggan lain, bagaimana ia membawa cangkir itu kembali, dan bagaimana tak lama setelah menyesapnya, Broto tiba-tiba kejang dan ambruk.

Wulan mendengarkan tanpa memotong, matanya tidak lepas dari wajah Sekar, seperti sedang membaca lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan, membaca nada suara, gerakan tangan, arah pandangan mata yang berubah setiap kali menyebut bagian tertentu dari cerita.

Lihat selengkapnya