KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #9

RACUN DALAM CANGKIR

Malam sebelum hasil laboratorium keluar, Wulan tidak benar-benar tidur. Ia menginap sementara di rumah dinas kecil milik Polsek yang jarang dipakai, satu kamar sederhana dengan dipan kayu dan lemari tua yang engselnya berderit setiap kali dibuka, terletak tidak jauh dari balai desa Kalisumur. Ia menghabiskan sebagian besar malam duduk di kursi kayu dekat jendela, menyusun ulang seluruh kronologi kejadian di buku catatannya, mencoba mencari celah dalam urutan waktu yang sejauh ini masih terasa berantakan.

Ia sudah menangani cukup banyak kasus kematian tak wajar sepanjang kariernya, kecelakaan yang ternyata pembunuhan, pembunuhan yang ternyata bunuh diri, dan berbagai variasi di antaranya, tapi kasus ini terasa berbeda. Bukan karena metodenya yang rumit, melainkan karena skalanya. Kalau dugaannya benar, ini bukan sekadar satu nyawa yang direnggut karena dendam pribadi atau nafsu sesaat, melainkan bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah sistem yang sudah berjalan bertahun-tahun, melibatkan banyak orang, dan baru terbongkar karena satu orang asing cukup nekat untuk bertanya terlalu banyak.

Ruang praktik dr. Yudo Anggara di Puskesmas Kalisumur bukan tempat yang biasa menangani kasus semacam ini. Biasanya ruangan kecil berdinding cat hijau pudar itu hanya menampung pasien demam, luka sayat golok kebun, atau ibu-ibu hamil yang datang periksa kandungan. Pagi itu, mejanya dipenuhi laporan awal yang ia susun semalaman, telepon dari laboratorium forensik kota kecamatan yang baru saja rampung menganalisis sampel dari cangkir, dari isi lambung, dan dari toples biji kopi yang diamankan Wulan.

"Saya belum pernah melihat kombinasi seperti ini," kata dr. Yudo begitu Wulan dan Farhan duduk di seberang mejanya. Ia melepas kacamatanya, menggosok kedua matanya yang merah karena kurang tidur, sebelum melanjutkan. "Racunnya bukan satu senyawa tunggal. Ada dua unsur yang bercampur: yang pertama adalah alkaloid dari biji kecubung, racun alami yang sebenarnya cukup dikenal di kalangan petani di sini, karena kecubung liar sering tumbuh di pinggir kebun dan semua orang tahu buahnya berbahaya kalau tertelan. Tapi dosis dari alkaloid kecubung saja biasanya menimbulkan gejala bertahap, halusinasi, jantung berdebar, baru kemudian kolaps. Yang saya lihat di tubuh korban jauh lebih cepat dari itu."

Ia berdiri, mengambil satu buku referensi toksikologi dari rak di belakangnya, membuka halaman yang sudah ditandai dengan kertas kecil. "Lihat ini. Kecubung, atau Datura metel, memang tumbuh liar di sepanjang pinggiran kebun kopi di dataran tinggi seperti Kalisumur, orang-orang tua dulu bahkan memakainya sebagai obat tradisional dalam dosis sangat kecil, untuk meredakan nyeri otot atau sesak napas. Tapi dalam dosis besar, alkaloid tropannya bisa menimbulkan halusinasi berat, detak jantung tidak teratur, dan kalau cukup banyak, kegagalan sistem saraf pusat. Biasanya butuh waktu tiga puluh menit sampai satu jam untuk efek fatal muncul. Korban Anda kolaps dalam hitungan menit."

"Artinya ada unsur kedua," kata Wulan, mencatat.

"Betul. Unsur kedua adalah residu senyawa organofosfat, jenis yang sudah dilarang beredar sejak lebih dari satu dekade lalu karena terlalu toksik bahkan dalam dosis kecil. Ini bukan pestisida yang bisa dibeli sembarangan di toko pertanian sekarang. Ini jenis lama, yang kalau masih ada, kemungkinan besar tersimpan di gudang seseorang sejak sebelum pelarangan itu berlaku." Dr. Yudo menyodorkan salembar hasil laboratorium ke arah Wulan. "Kombinasi keduanya itulah yang membuat racun ini bekerja secepat itu, kecubung memberi rasa pahit yang bisa disamarkan oleh kopi, sementara organofosfat itulah yang sebenarnya menghentikan jantung korban dalam hitungan menit."

"Berapa banyak orang yang menurut Bapak punya pengetahuan cukup untuk meracik kombinasi seperti ini?" tanya Farhan.

Dr. Yudo mengangkat bahu. "Di kota besar, mungkin cukup banyak, ada forum daring, ada buku-buku toksikologi yang bisa diakses siapa saja yang cukup gigih mencarinya. Tapi di desa seperti Kalisumur, saya kira jumlahnya sangat terbatas. Butuh seseorang yang paham betul soal pestisida generasi lama, dan seseorang yang paham tanaman liar di sekitar sini sampai level yang tidak biasa dimiliki petani awam."

"Apakah mungkin racun semacam ini dibuat dalam waktu singkat, atau butuh persiapan lama sebelumnya?" tanya Wulan.

Dr. Yudo berpikir sejenak, mengetuk-ngetukkan pena ke mejanya. "Ekstraksi alkaloid dari biji kecubung sendiri sebenarnya tidak terlalu rumit kalau seseorang tahu caranya, cukup direndam, dihaluskan, disaring. Tapi mencampurnya dengan takaran organofosfat yang tepat, cukup untuk mempercepat efek tanpa membuat rasa dan warnanya terlalu mencolok dalam kopi, itu butuh eksperimen. Saya menduga racun ini bukan dibuat semalam, Bu Wulan. Ini kemungkinan besar sudah disiapkan jauh-jauh hari, mungkin bahkan sebelum pelaku tahu pasti kapan akan menggunakannya."

Lihat selengkapnya