Wulan percaya pada satu prinsip yang selalu ia pegang sejak awal kariernya: kebenaran jarang datang dari satu sumber besar, melainkan dari kumpulan detail-detail kecil yang, sendirian, tampak tidak berarti apa-apa. Karena itu, alih-alih hanya memanggil beberapa saksi kunci ke kantor sementara, ia memilih pendekatan yang lebih melelahkan namun menurutnya lebih efektif untuk desa sekecil Kalisumur: mendatangi setiap rumah di sepanjang rute yang mungkin dilalui pelaku, berbicara dengan siapa pun yang bersedia bicara, sekecil apa pun informasi yang mereka miliki.
Selama dua hari berikutnya, Wulan dan Farhan berkeliling dari rumah ke rumah, dari kebun ke kebun, mengumpulkan keterangan dari siapa pun yang mungkin melihat sesuatu pada pagi kematian Broto Handoyo. Kalisumur yang kecil membuat proses ini berjalan cukup cepat, hampir semua warga saling kenal, dan kabar tentang penyelidikan menyebar lebih cepat daripada yang bisa dikendalikan siapa pun.
Wawancara pertama adalah dengan Bu Ratminah, penjual sayur keliling yang setiap pagi melewati jalan di belakang Kedai Embun Pagi menuju pasar kecamatan.
"Saya lewat sekitar jam setengah enam, Bu," katanya, tangannya masih sibuk menyusun bayam ke dalam keranjang meski sedang diwawancara. "Waktu itu saya lihat ada motor terparkir di dekat pintu belakang kedai, bukan motor Nak Sekar, saya hafal betul motornya, warna merah dengan keranjang plastik di belakang. Motor yang ini hitam, ada tulisan di badannya, tapi saya tidak sempat baca jelas karena buru-buru."
"Jam setengah enam," ulang Wulan, mencatat. "Apakah Anda melihat siapa yang mengendarainya, atau di mana motor itu sekarang?"
"Tidak lihat orangnya, Bu. Cuma motornya saja yang saya lihat sekilas. Saya waktu itu buru-buru mau kejar angkot pertama ke pasar, jadi tidak sempat perhatikan lebih jauh."
"Apakah ini kejadian biasa? Ada motor yang parkir di sana pagi-pagi begitu?"
Bu Ratminah menggeleng, tangannya berhenti sejenak dari menyusun bayam. "Tidak biasa, Bu. Biasanya jam segitu belum ada siapa-siapa di sekitar kedai selain Nak Sekar sendiri yang baru buka pintu depan. Makanya saya ingat betul, karena kelihatan aneh."
Wulan mencatat detail itu, kemudian melanjutkan wawancara ke rumah berikutnya di sepanjang jalan yang sama, berharap menemukan orang lain yang mungkin melewati rute serupa pada jam yang berdekatan.
Rumah kedua yang mereka datangi adalah milik Pak Slamet, seorang purnawirawan tentara yang sudah pensiun dua puluh tahun lalu dan kini menghabiskan hari-harinya merawat kebun kecil di belakang rumahnya. Kebiasaannya bangun jam empat pagi, hasil bertahun-tahun disiplin militer yang tidak pernah benar-benar hilang meski usianya sudah lanjut, membuatnya salah satu saksi paling potensial di seluruh dusun.
"Saya dengar suara motor dua kali pagi itu, Bu," katanya, duduk tegap di kursi kayu terasnya seperti sedang memberi laporan resmi. "Yang pertama sekitar jam setengah lima, cukup jauh dari sini, mungkin dari arah rumah besar di atas bukit. Yang kedua sekitar jam setengah enam, lebih dekat, sepertinya lewat jalan setapak di belakang rumah-rumah."
"Apakah Bapak yakin soal waktu-waktu itu?"
"Saya selalu cek jam setiap kali dengar sesuatu yang tidak biasa, Bu. Kebiasaan lama, sulit hilang." Pak Slamet mengetuk pergelangan tangannya sendiri, tempat jam tangan analog lama masih melingkar rapi meski talinya sudah usang. "Dua puluh tahun saya jaga pos, kebiasaan itu tidak pernah benar-benar pergi."