Sore itu, setelah wawancara panjang mengelilingi Kalisumur, Wulan memutuskan untuk menghubungi kantor tempat Broto Handoyo bekerja di Surabaya, sesuatu yang seharusnya sudah ia lakukan sejak hari pertama, tapi terus tertunda oleh kesibukan mengumpulkan bukti fisik di lapangan.
Nomor kantor yang tertera di kartu identitas Broto ternyata sudah tidak aktif. Percobaan kedua lewat nomor yang tercantum di buku catatannya sendiri terhubung ke sebuah kantor kecil di kawasan pergudangan Surabaya Utara, jauh dari citra kantor eksportir besar yang selama ini Sekar bayangkan dari cara Broto berbicara.
"PT Nusantara Kopi Ekspor," jawab suara di seberang telepon, seorang perempuan muda yang terdengar terburu-buru. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Detektif Ratri Wulandari dari Polres, menyelidiki kematian salah satu karyawan Ibu, Broto Handoyo."
Hening sejenak di ujung telepon, cukup lama untuk membuat Wulan yakin bahwa nama itu bukan sesuatu yang asing bagi perempuan itu. "Pak Broto... sudah tidak bekerja di sini sejak enam bulan lalu, Bu. Beliau mengundurkan diri."
"Bisa dijelaskan alasannya?"
"Saya cuma staf administrasi, Bu, saya tidak tahu detailnya. Tapi kalau Ibu mau bicara dengan atasan saya, Pak Hendra, mungkin bisa lebih membantu. Beliau yang menangani langsung soal pengunduran diri Pak Broto."
Pak Hendra, direktur kecil perusahaan ekspor kopi skala menengah itu, baru bisa dihubungi keesokan paginya. Suaranya di telepon terdengar hati-hati, seperti seseorang yang sudah lama menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia ceritakan kepada sembarang orang.