KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #12

SEKAR SEBAGAI TERSANGKA?

Ada semacam hukum tak tertulis di desa-desa kecil seperti Kalisumur, yang baru benar-benar Sekar pahami maknanya di minggu itu: kecurigaan menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi, dan luka yang ditinggalkannya jauh lebih lama bertahan daripada permintaan maaf sekalipun.

Kabar bahwa Danu terlihat tergesa-gesa di dekat kedai pagi itu sampai ke telinga warga lebih cepat daripada yang diharapkan siapa pun, dan seperti biasa, cerita itu berubah bentuk setiap kali berpindah dari mulut ke mulut. Yang awalnya hanya "terlihat berjalan cepat" berubah menjadi "terlihat mencurigakan," lalu "pasti tahu sesuatu," hingga akhirnya sampai pada versi paling ekstrem yang berbisik-bisik di warung-warung kecil: bahwa Sekar dan Danu berkomplot untuk meracuni tamu dari kota itu.

Sekar merasakan perubahan itu bahkan sebelum ia mendengar bisikan-bisikan secara langsung. Ia merasakannya dari cara pelanggan lama memesan kopi mereka dengan lebih cepat, tanpa basa-basi seperti biasanya, lalu buru-buru pergi tanpa duduk lama seperti kebiasaan mereka selama ini. Ia merasakannya dari cara beberapa ibu-ibu berbisik pelan ketika melewati kedai, cukup pelan untuk terdengar sopan namun cukup keras untuk sengaja didengar. Tiga tahun membangun kepercayaan warga desa, dan hanya butuh tiga hari untuk sebagian besar darinya mulai retak.

Sekar mendengar bisikan itu untuk pertama kalinya secara langsung dari Bu Painah sendiri, yang datang ke kedai dengan wajah menyesal, mencoba menjelaskan bahwa keterangannya kepada polisi "tidak dimaksudkan macam-macam," tapi kerusakan sudah terlanjur terjadi.

Namun tidak semua warga bersikap sama. Siang itu, Pak Slamet, purnawirawan yang tinggal tidak jauh dari kedai, sengaja mampir, memesan kopi dengan suara lantang di depan beberapa pelanggan lain yang tampak ragu-ragu masuk.

"Saya sudah cerita ke Bu Detektif semua yang saya dengar pagi itu," katanya, cukup keras agar terdengar oleh siapa pun di sekitar teras. "Dan saya bilang jelas-jelas, saya dengar suara motor dari arah rumah besar di atas bukit, bukan dari arah kedai ini. Kalian yang suka bergosip tanpa tahu fakta, lebih baik diam saja daripada menuduh anak yang sudah susah payah membangun usaha sendiri di desa ini."

Kata-kata tegas dari seorang purnawirawan yang dihormati itu, meski tidak sepenuhnya menghentikan bisik-bisik yang beredar, cukup untuk membuat beberapa pelanggan lama akhirnya berani kembali duduk di teras kedai, memesan kopi seperti biasa, meski dengan sedikit lebih banyak basa-basi canggung daripada sebelumnya. Pelanggan yang biasa datang pagi hari mulai berkurang. Beberapa bahkan menyeberang jalan untuk menghindari lewat di depan kedai, seolah bangunan kayu jati tua yang selama ini menjadi kebanggaan Sekar kini adalah tempat yang harus dijauhi.

"Ini tidak adil," kata Sekar kepada Wulan, suaranya bergetar antara marah dan putus asa, ketika detektif itu datang lagi ke kedai untuk pemeriksaan lanjutan. "Saya yang menemukan mayatnya. Saya yang menelepon polisi. Kenapa sekarang saya yang dicurigai seolah-olah saya pelakunya?"

"Saya paham ini berat," jawab Wulan, nada suaranya tetap tenang meski matanya tidak lepas mengamati reaksi Sekar. "Tapi saya harus jujur pada Anda: sebagai orang yang paling terakhir mengelola kopi yang diminum korban, dan orang yang tahu tentang biji kopi aneh yang mungkin berhubungan dengan kasus ini, Anda memang salah satu pihak yang harus saya periksa secara menyeluruh. Itu bukan berarti saya sudah menganggap Anda bersalah."

"Tapi warga sudah menganggap begitu."

Wulan terdiam sejenak, seperti mengakui sesuatu yang tak bisa ia bantah sepenuhnya. "Desa kecil bekerja dengan caranya sendiri, Nona Sekar. Saya tidak bisa mengendalikan apa yang orang percayai sebelum saya selesai bekerja. Yang bisa saya lakukan adalah memastikan penyelidikan ini berjalan adil dan cepat, supaya nama Anda, dan nama siapa pun yang tidak bersalah, bisa dibersihkan secepat mungkin."

Ia kemudian meminta Sekar untuk menjelaskan kembali, sedetail mungkin, dari mana asal setiap kilogram biji kopi yang disimpan di kedai, kapan dibeli, dari kebun siapa, disimpan di mana, siapa saja yang punya akses ke tempat penyimpanan itu selain dirinya sendiri.

"Dan soal Pak Broto sendiri," tanya Wulan, "apakah ada orang yang belakangan ini bertanya-tanya soal kebiasaannya di kedai, jam berapa dia biasa datang, apa yang biasa dia pesan?"

Lihat selengkapnya