KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #13

KELUARGA KUSUMO

Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Kusumo, Farhan yang menyetir pelan-pelan di jalan berbatu bertanya kepada Wulan mengapa mereka perlu mengunjungi keluarga itu, mengingat sejauh ini belum ada satu pun bukti langsung yang mengarah kepada mereka.

"Kadang, Farhan," jawab Wulan sambil menatap ke luar jendela ke arah kebun-kebun kopi yang berganti pemandangan setiap beberapa ratus meter, "yang paling penting bukan mencari siapa yang bersalah, melainkan memahami peta kekuatan di suatu tempat, siapa membenci siapa, siapa berutang budi kepada siapa, siapa yang diam-diam menunggu kesempatan untuk membalas dendam lama. Keluarga Kusumo adalah rival bisnis terbesar keluarga Sedayu di Kalisumur. Kalaupun mereka tidak terlibat langsung, mereka mungkin tahu sesuatu yang tidak akan pernah dikatakan oleh orang-orang yang bekerja untuk Prawiro."

Kediaman keluarga Kusumo terletak di sisi barat Kalisumur, berlawanan arah dari rumah besar Prawiro Sedayu, seolah dua kekuatan besar di desa itu sengaja menjaga jarak satu sama lain sejak bertahun-tahun lalu. Rumahnya tidak sebesar milik Prawiro, tapi cukup mencolok dengan pagar besi yang dicat hijau tua dan halaman luas yang ditanami berbagai jenis bunga, kontras dengan kebanyakan rumah lain di Kalisumur yang halamannya lebih sering ditanami sayur atau digunakan untuk menjemur hasil panen.

Pak Kusumo, lelaki berusia enam puluhan dengan kumis tebal yang sudah memutih, menyambut Wulan dan Farhan dengan sikap yang jauh lebih terbuka dibandingkan Prawiro Sedayu, atau setidaknya begitu kesan awal yang ia tunjukkan.

Ruang tamu itu dipenuhi foto-foto keluarga dalam berbagai ukuran bingkai, dari foto pernikahan Pak Kusumo dan istrinya yang sudah pudar warnanya, hingga foto Larasati kecil sedang berdiri di tengah kebun kopi dengan seragam sekolah dasar, tersenyum lebar sambil memegang keranjang kecil berisi ceri merah. Di dinding sebelahnya, berjejer piagam penghargaan kebun kopi terbaik tingkat kecamatan dari beberapa tahun yang berbeda, bukti bahwa keluarga Kusumo, meski kalah luas lahan dari keluarga Sedayu, tidak kalah dalam hal kualitas hasil panen.

"Saya sudah dengar soal kematian Pak Broto," katanya sambil mempersilakan mereka duduk. "Kasihan sekali. Orangnya sopan, cerdas. Kami sempat berbincang cukup lama waktu dia mampir ke kebun saya, dua hari sebelum kejadian."

"Bisa diceritakan apa yang dibicarakan?" tanya Wulan.

"Dia bertanya banyak soal sistem pengepulan di sini. Saya jelaskan bahwa keluarga kami sengaja tidak ikut sistem gudang terpusat sejak sepuluh tahun lalu, kami jual langsung ke beberapa eksportir kecil di kota kecamatan, meski itu berarti kami harus kerja lebih keras untuk cari pembeli sendiri." Pak Kusumo menghela napas, nada suaranya berubah sedikit lebih tajam. "Terus terang, Bu Detektif, sistem gudang terpusat yang dikuasai keluarga Sedayu itu sudah lama jadi ganjalan buat kami. Bukan cuma soal harga yang mereka tentukan sepihak, tapi juga soal bagaimana mereka bisa terus memperluas kebun sementara keluarga-keluarga kecil lain justru semakin menyusut lahannya."

"Apakah Bapak sendiri pernah ditawari untuk bergabung dengan sistem gudang itu?"

Pak Kusumo tertawa kecil, tawa yang tidak mengandung banyak humor di dalamnya. "Sudah dua kali, Bu. Sekali oleh ayah Pak Prawiro, tiga puluh tahun lalu, waktu keluarga kami baru mulai membangun kebun ini dari nol. Sekali lagi oleh Pak Prawiro sendiri, sekitar sepuluh tahun lalu, setelah kebun kami mulai dikenal punya kualitas yang cukup diperhitungkan di pasar. Dua-duanya saya tolak."

"Kenapa?"

Lihat selengkapnya