Dua hari setelah kunjungan pertama ke kediaman Kusumo, Wulan kembali ke sana, kali ini bukan untuk menginterogasi Pak Kusumo, melainkan atas permintaan Larasati sendiri, yang mengirim pesan singkat lewat Farhan mengatakan ingin bicara "hal-hal yang mungkin membantu, tapi tidak enak dibicarakan di depan Ayah."
Mereka bertemu bukan di rumah besar keluarga Kusumo, melainkan di sebuah gubuk kecil di pinggir kebun yang biasa dipakai Larasati sebagai tempat menyimpan alat-alat pertanian dan, belakangan, sebagai semacam ruang belajar kecil untuk anak-anak buruh kebun yang tidak mampu membayar les tambahan di kota kecamatan.
"Saya mengajar mereka baca-tulis dan berhitung dasar setiap Sabtu sore," jelas Larasati, agak malu-malu ketika melihat Wulan memperhatikan papan tulis kecil dan tumpukan buku bekas di sudut ruangan. "Bukan sesuatu yang besar. Tapi saya pikir, kalau anak-anak di sini punya kesempatan pendidikan yang lebih baik, mungkin generasi mereka tidak akan semudah generasi orang tua mereka dimanfaatkan oleh orang-orang seperti keluarga Sedayu."
Wulan duduk di salah satu bangku kecil, memperhatikan Larasati dengan seksama, caranya bicara, caranya menata buku-buku itu dengan rapi meski sudah lusuh, semuanya menunjukkan seseorang yang sungguh-sungguh peduli, bukan sekadar berpura-pura demi kesan baik.
"Apa yang ingin Anda ceritakan, Larasati?"
Larasati menghela napas panjang, duduk di bangku seberang Wulan. "Saya tahu ini mungkin tidak penting untuk penyelidikan Ibu. Tapi saya merasa bersalah setiap kali memikirkan Pak Broto. Dia orang pertama di luar keluarga saya yang benar-benar mendengarkan waktu saya cerita soal dokumen-dokumen yang saya temukan di rumah Sedayu. Ayah saya selalu bilang, jangan cari masalah dengan keluarga sebesar itu. Tapi Pak Broto... dia bilang, cerita saya penting, dan dia akan pastikan itu didengar orang yang tepat."
"Apakah dia pernah meminta sesuatu sebagai balasan?"
Larasati terdiam, mengerutkan kening seperti mencoba mengingat dengan jujur. "Tidak secara langsung. Tapi ada satu kali dia bilang, sambil bercanda, atau saya kira waktu itu bercanda, bahwa 'informasi seperti ini biasanya punya harga di kota, tapi untuk Kalisumur, saya kerjakan gratis karena kasihan.' Saya tidak terlalu memikirkannya waktu itu. Sekarang, entah kenapa, kalimat itu terus terngiang."
Wulan mencatat itu dengan seksama, tapi tidak membiarkan raut wajahnya berubah, tidak ingin memberi tahu Larasati bahwa kecurigaannya terhadap Broto sendiri sudah mulai terbentuk sejak percakapan dengan Pak Hendra kemarin.