KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #15

CATATAN BROTO

Sebelum Larasati sempat menjelaskan lebih jauh, suara mobil berhenti di depan rumah keluarga Kusumo, disusul ketukan terburu-buru di pintu. Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu, wajahnya lelah dan matanya bengkak seperti baru saja menangis sepanjang perjalanan, membawa ransel besar yang tampak berat di bahunya.

Ia mengenakan jaket denim yang kusut, rambutnya diikat asal-asalan seperti tidak sempat dirapikan sejak pagi, dan sepatu ketsnya masih berdebu jalan panjang dari terminal bus kecamatan. Wulan bisa menebak dari raut wajahnya bahkan sebelum perempuan itu membuka mulut, ini bukan tamu biasa, ini seseorang yang datang membawa kabar duka yang masih segar.

"Maaf mengganggu," katanya kepada Pak Kusumo yang membuka pintu, sebelum matanya menangkap sosok Wulan yang mengenakan rompi bertuliskan "RESERSE" di baliknya. "Saya mencari petugas yang menangani kasus kematian Broto Handoyo. Saya... saya adiknya. Nama saya Rini."

Wulan segera berdiri, memperkenalkan diri, dan setelah penjelasan singkat mengapa ia berada di rumah keluarga Kusumo, memutuskan untuk melanjutkan percakapan dengan Rini di ruang yang lebih privat, kebetulan Pak Kusumo menawarkan ruang belakang rumahnya untuk digunakan sementara.

"Saya baru dapat kabar dua hari lalu," kata Rini, suaranya masih bergetar meski ia berusaha menahan diri.

Pak Kusumo, yang sejak tadi berdiri canggung di ambang pintu antara ruang tamu dan ruang belakang, menawarkan segelas air putih kepada Rini, yang diterima dengan anggukan lemah dan ucapan terima kasih pelan. Larasati duduk di sudut ruangan, memperhatikan dengan seksama, sesekali menyeka matanya sendiri yang mulai berkaca-kaca mendengar kesedihan Rini, meski keduanya baru saja bertemu, ada semacam ikatan tak terucap di antara mereka, dua perempuan muda yang sama-sama terseret ke dalam pusaran akibat keserakahan orang lain.

"Kakak saya biasa mengabari saya setiap malam kalau sedang tugas ke luar kota, tapi tiga malam berturut-turut dia tidak membalas pesan saya. Saya mulai khawatir, dan akhirnya menghubungi kantornya di Surabaya, yang kemudian mengabari saya soal... soal apa yang terjadi." Ia menahan napas sejenak. "Saya langsung berangkat ke sini begitu urusan pemakaman sementara selesai diurus keluarga."

"Saya turut berduka, Rini," kata Wulan, nadanya melembut. "Kalau Anda tidak keberatan, saya perlu bertanya beberapa hal. Tapi kita bisa lakukan pelan-pelan."

Rini mengangguk, membuka ranselnya, dan mengeluarkan sebuah map plastik tebal berisi kumpulan kertas. "Sebelum Ibu bertanya, saya ingin menunjukkan ini dulu. Kakak saya selalu menyalin catatan kerjanya ke rumah, semacam kebiasaan untuk berjaga-jaga kalau buku catatan lapangannya hilang atau rusak. Saya menemukan map ini di laci mejanya di Surabaya."

Lihat selengkapnya