KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #17

MASA LALU MBAH SUTO

Sepanjang perjalanan menuju gubuk Mbah Suto, Wulan memikirkan cara terbaik untuk membuka percakapan yang ia tahu akan menyentuh luka lama seseorang yang selama ini hanya ia kenal sebagai pelanggan setia kedai Sekar, peminum kopi hitam yang suka berbicara dengan teka-teki. Ia sudah cukup lama menjadi penyidik untuk tahu bahwa pertanyaan langsung terkadang perlu, tapi ada saat-saat tertentu ketika membiarkan seseorang bercerita dengan kecepatannya sendiri akan menghasilkan kebenaran yang jauh lebih utuh daripada interogasi yang terburu-buru.

Malam itu, Wulan memutuskan untuk kembali ke gubuk kecil Mbah Suto, kali ini bukan sebagai tamu yang sekadar mampir, melainkan sebagai penyidik yang membawa fotokopi surat-surat lama yang diperlihatkan Larasati siang tadi.

Mbah Suto menyambutnya di depan gubuk seperti biasa, duduk di bangku bambu yang sama, tapi kali ini raut wajahnya berubah begitu melihat map yang dibawa Wulan.

"Saya kira hari ini akan datang juga," katanya pelan, sebelum Wulan sempat mengucapkan sepatah kata pun. "Cuma tidak menyangka akan secepat ini."

"Nama lengkap Bapak Suto Wirasena?" tanya Wulan, duduk di bangku di seberangnya.

Mbah Suto mengangguk, matanya menerawang jauh ke arah kebun-kebun yang samar di kegelapan. "Dulu, sebelum semua ini terjadi, keluarga saya punya kebun seluas hampir lima hektare di sisi timur desa, tanah yang sekarang menjadi sebagian besar milik keluarga Sedayu. Kebun itu warisan dari kakek saya, dikelola turun-temurun, cukup untuk menghidupi keluarga besar kami dengan layak."

Ia menceritakan, perlahan dan dengan nada yang berusaha tetap tenang meski jelas menyimpan luka lama, bagaimana ayah Prawiro, Pak Sedayu senior, menawarkan pinjaman modal ketika kebun keluarganya diserang hama parah di pertengahan tahun tujuh puluhan, saat itu belum ada bank atau koperasi yang bersedia meminjamkan uang kepada petani kecil tanpa jaminan besar.

"Hama itu datang tiba-tiba, Nak, menyerang hampir separuh pohon kopi kami dalam waktu kurang dari sebulan. Saya panik, tidak tahu harus berbuat apa. Waktu itu Pak Sedayu senior datang sendiri ke kebun saya, menawarkan bantuan seolah dia malaikat penolong, obat-obatan untuk basmi hama, modal untuk tanam ulang pohon yang mati, semua dengan bunga yang katanya 'sangat ringan, khusus untuk tetangga baik seperti Bapak Suto.'" Mbah Suto tersenyum pahit mengenang kata-kata itu. "Saya begitu berterima kasih waktu itu, Nak. Saya bahkan sempat menyembelih ayam untuk mensyukuri pertolongan itu, mengundang beberapa tetangga makan bersama. Betapa bodohnya saya."

Lihat selengkapnya