17
RINI KEMBALI
Rini kembali sekali lagi ke Kalisumur, tiga hari setelah kunjungan pertamanya yang penuh air mata di kediaman Kusumo. Kali ini ia tidak datang membawa map bukti atau dokumen tambahan, melainkan hanya dirinya sendiri, mengaku kepada Wulan lewat telepon bahwa ia butuh melihat langsung tempat kakaknya menghabiskan hari-hari terakhirnya, sebelum benar-benar bisa merelakan kepergiannya.
Sekar menyambutnya di Kedai Embun Pagi sore itu, menawarkan tempat duduk di meja yang sama, tanpa sengaja, tempat Broto biasa duduk setiap kali berkunjung. Rini duduk di sana lama, menatap ke sekeliling ruangan, seperti mencoba membayangkan kakaknya di tempat itu, tertawa kecil sambil mencatat sesuatu di buku catatannya.
"Dia suka tempat seperti ini," kata Rini akhirnya, suaranya lebih tenang dari kunjungan sebelumnya. "Kedai kecil, jauh dari kota. Waktu kami masih tinggal serumah, dia selalu bilang kedai-kedai kecil seperti ini menyimpan cerita yang lebih jujur daripada kafe-kafe besar di kota, yang menurutnya cuma menjual suasana, bukan rasa."
"Dia benar soal itu," kata Sekar, tersenyum tipis, meletakkan secangkir kopi hangat di depan Rini, bukan dari stok umum, melainkan racikan terbaik dari kebun keluarganya sendiri. "Ini gratis. Anggap saja penghormatan terakhir untuknya."
Rini menyesap kopi itu perlahan, matanya berkaca-kaca. "Bu Wulan cerita sedikit soal apa yang mereka temukan soal kakak saya. Soal... soal sisi lain dia yang tidak saya kenal." Ia menatap Sekar. "Apakah Anda membencinya sekarang? Karena dia ternyata bukan orang sebaik yang Anda kira waktu pertama bertemu?"