KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #19

DANU DIINTEROGASI

Sebelum pemeriksaan dimulai, Wulan sempat berdiskusi singkat dengan Farhan di luar pos ronda, menyusun strategi bagaimana sebaiknya mendekati Danu, apakah dengan pendekatan tegas yang bisa memancing kejujuran cepat namun berisiko membuatnya defensif, atau pendekatan lebih lunak yang mungkin butuh waktu lebih lama namun bisa menghasilkan keterangan yang lebih jujur dan sukarela.

"Dia bukan tersangka utama menurut saya, Bu," kata Farhan. "Tapi keterangan Bu Painah itu tetap perlu diklarifikasi."

"Setuju," jawab Wulan. "Kita dengarkan dulu versinya, baru kita nilai."

Keesokan paginya, Wulan memanggil Danu Prasetyo untuk pemeriksaan resmi di kantor pos ronda yang untuk sementara digunakan sebagai markas penyelidikan darurat, mengingat kantor polisi sektor terdekat berjarak lebih dari satu jam perjalanan dari Kalisumur.

Bangunan pos ronda itu sederhana, satu ruangan beratap seng dengan meja kayu panjang yang biasa dipakai warga untuk ronda malam bergiliran, kini disulap sementara menjadi ruang pemeriksaan dengan menambahkan dua kursi plastik dan sebuah lampu neon yang menyala berkedip-kedip di langit-langit. Farhan sudah menyiapkan rekaman suara di ponselnya, sementara Wulan menata beberapa lembar dokumen di atas meja, salinan keterangan Bu Painah, foto motor hitam yang dilihat Bu Ratminah, dan hasil sementara pemeriksaan gudang Sedayu.

Danu datang dengan wajah tegang, matanya sesekali melirik ke arah Sekar yang turut hadir sebagai saksi atas permintaannya sendiri, meski Wulan sempat mengingatkan bahwa kehadiran Sekar tidak akan memengaruhi jalannya pemeriksaan.

"Bu Painah bilang dia melihat Anda berjalan tergesa-gesa di dekat kedai Kedai Embun Pagi sekitar jam enam kurang seperempat pada pagi kematian Pak Broto," kata Wulan, memulai tanpa basa-basi. "Bisa Anda jelaskan apa yang Anda lakukan di sana pagi itu?"

Danu menelan ludah, tangannya meremas ujung kemejanya sendiri. "Saya... saya memang lewat situ pagi itu. Tapi saya tidak masuk ke kedai. Saya cuma lewat, menuju kebun keluarga saya yang jalannya memang melalui belakang deretan rumah termasuk kedai Sekar."

"Kenapa tergesa-gesa?"

"Karena saya baru saja bertengkar dengan Bapak," jawab Danu, suaranya melemah. "Malam sebelumnya, saya mendesak Bapak untuk melapor soal biji kopi aneh dan timbangan yang tidak masuk akal itu ke pihak berwajib, tapi Bapak menolak keras, bilang saya akan membuat masalah besar untuk seluruh keluarga. Kami bertengkar cukup hebat. Pagi itu saya berjalan cepat karena masih kesal, ingin sendirian dulu di kebun sebelum kembali menghadapi Bapak."

"Apa isi pertengkaran itu, persisnya?"

Danu menghela napas, matanya menerawang mengingat kembali kejadian malam itu. "Bapak bilang, 'kita ini cuma petani kecil, Nak, jangan cari gara-gara dengan orang besar. Biar saja itu urusan Tuhan yang membalasnya suatu hari.' Saya bilang, kalau semua orang berpikir begitu, Juragan Prawiro akan terus melakukannya pada keluarga lain, dan lama-lama kita semua kehilangan segalanya seperti yang terjadi pada Mbah Suto. Bapak marah besar, bilang saya sok tahu soal masa lalu yang bahkan tidak sepenuhnya saya pahami."

Wulan mencatat keterangan itu, kemudian melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih tajam. "Apakah Anda tahu bahwa racun yang digunakan untuk membunuh Pak Broto kemungkinan besar sudah tercampur dalam bubuk kopi sebelum diseduh pagi itu, yang berarti pelaku harus punya akses ke dapur kedai sebelum kedai buka?"

Lihat selengkapnya