KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #20

BUKTI YANG MENYESATKAN

Tiga hari setelah penggeledahan gudang, kantor sementara di pos ronda sudah mulai terasa seperti markas sungguhan, papan tulis kecil yang dipinjam dari sekolah dasar setempat kini penuh coretan spidol, foto-foto TKP ditempel berjajar, dan benang wol merah menghubungkan satu nama ke nama lain dalam pola yang, menurut Farhan, mulai terlihat seperti sarang laba-laba raksasa.

Wulan merasa yakin ia sudah cukup punya bukti untuk mengajukan permohonan penahanan terhadap Rudi, buku catatan kecil berisi takaran yang ditulis tangannya sendiri, celah kosong di rak tempat kaleng organofosfat biasa disimpan, kesaksian Yoga yang melihatnya berjalan kaki dari arah rumah Prawiro menuju gudang pagi kematian Broto, dan keterangan Bu Ratminah soal motor hitam yang terparkir dekat pintu belakang kedai.

"Semua mengarah padanya, Bu," kata Farhan, menyusun kembali papan bukti yang sudah mereka perbarui semalam. "Motif jelas, dia yang paling tahu isi gudang itu, dia yang punya akses ke racun, dan dia yang terlihat di sekitar kedai pada waktu yang tepat."

Wulan menatap papan itu lama, jarinya mengetuk-ngetuk meja. "Terlalu rapi, Farhan. Semua kepingan pas terlalu mudah. Kasus yang sungguhan jarang serapi ini."

Meski begitu, prosedur tetap harus dijalankan. Sore itu, Wulan memanggil Rudi untuk pemeriksaan lanjutan, kali ini dengan nada yang jauh lebih tegas dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Rudi datang dengan wajah pucat, tangannya gemetar bahkan sebelum duduk di kursi pos ronda.

"Pak Rudi," kata Wulan, meletakkan salinan buku catatan yang ditemukan di gudang tepat di depannya. "Ini tulisan tangan Anda?"

Rudi menatap halaman itu lama, matanya berkaca-kaca sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Bu. Punya saya."

"Jelaskan isinya."

"Itu... itu catatan takaran obat hama yang Pak Prawiro suruh saya siapkan. Seminggu sebelum kejadian, beliau minta saya campur dua jenis obat, yang di kaleng lama, sama satu lagi yang biasa dipakai buat kebun utara. Katanya buat basmi hama yang susah mati." Suara Rudi bergetar hebat. "Saya cuma ikuti takaran yang beliau kasih tahu lewat telepon, Bu. Saya sumpah saya tidak tahu itu untuk apa selain hama."

"Dan setelah dicampur, ke mana obat itu Anda bawa?"

"Saya taruh lagi di gudang, di ruangan yang sama. Saya tidak pernah bawa ke mana-mana, apalagi ke kedai Nak Sekar." Rudi menunduk, air matanya mulai jatuh. "Saya cuma mandor kecil, Bu. Saya cuma jalankan perintah. Saya tidak tahu-menahu soal Pak Broto."

Lihat selengkapnya