KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #21

PERCAKAPAN DI MALAM HUJAN

Hujan turun deras malam itu, sesuatu yang jarang terjadi di Kalisumur pada bulan-bulan seperti ini, membuat atap seng Kedai Embun Pagi berdentum riuh seperti ribuan jari mengetuk secara bersamaan. Suara itu, dipadukan dengan gemuruh guntur sesekali dari arah punggung Raung, membuat malam terasa lebih hidup dibandingkan malam-malam berkabut yang biasa menyelimuti desa ini, seolah langit sendiri sedang ikut gelisah dengan segala yang terjadi di bawahnya.

Sekar sudah menutup kedai sejak sore, tapi lampu minyak kecil di meja kasir masih menyala, dan ketika Wulan mengetuk pintu depan, basah kuyup meski sudah memakai jas hujan tipis, Sekar tidak ragu membiarkannya masuk.

"Maaf mengganggu selarut ini," kata Wulan, melepas jas hujannya yang menetes-netes di lantai kayu. "Saya baru dari pos ronda. Rumah dinas saya bocor parah, dan saya butuh tempat berteduh sebentar sebelum hujan reda."

"Duduk saja, Bu. Saya buatkan kopi hangat." Sekar berjalan ke dapur, gerakannya sudah jauh lebih tenang dibandingkan minggu-minggu sebelumnya, meski bayang-bayang kecurigaan warga belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.

Mereka duduk berhadapan di salah satu meja kayu, ditemani suara hujan dan aroma kopi yang mengepul dari dua cangkir yang baru diseduh. Untuk pertama kalinya sejak kematian Broto, percakapan di antara mereka terasa tidak seperti interogasi maupun laporan resmi, melainkan dua perempuan yang kebetulan sama-sama lelah oleh minggu yang panjang.

"Rudi tidak bersalah?" tanya Sekar akhirnya, memecah keheningan.

"Tidak bersalah atas pembunuhan," jawab Wulan, menyesap kopinya. "Tapi bersalah atas cukup banyak hal lain. Dia dipakai, Nona Sekar. Diperintah tanpa pernah benar-benar diberi tahu untuk apa. Ada semacam pola di sini yang mulai saya kenali, orang-orang kecil yang dipakai oleh orang-orang besar, lalu ditinggalkan sendirian menanggung akibatnya kalau semua terbongkar."

Sekar terdiam, memikirkan ayahnya, memikirkan betapa banyak petani di Kalisumur yang mungkin pernah berada di posisi yang sama seperti Rudi, dipakai oleh sistem yang lebih besar dari yang bisa mereka pahami sepenuhnya. "Bu Wulan, boleh saya tanya sesuatu yang bukan soal kasus?"

"Silakan."

"Kenapa Ibu jadi detektif? Pekerjaan ini kelihatannya berat sekali, harus curiga sama semua orang, harus menahan diri supaya tidak buru-buru menuduh, harus tetap tenang meski orang-orang di sekitar panik."

Wulan tersenyum kecil, senyum yang jarang terlihat selama seminggu terakhir. "Ayah saya dulu petani tebu di Lumajang. Ketika saya kecil, tanah keluarga kami sempat digugat sepihak oleh perusahaan besar yang mengklaim batas kebun kami masuk wilayah konsesi mereka. Kami tidak punya uang untuk pengacara yang layak, tidak punya koneksi, tidak punya apa-apa selain surat-surat lama yang sobek di sana-sini. Kami kalah, meski saya yakin sampai sekarang klaim itu tidak benar." Ia menatap ke luar jendela, ke arah hujan yang masih deras mengguyur jalan berkabut. "Waktu itu saya janji pada diri sendiri, kalau saya besar nanti, saya ingin jadi orang yang bisa membela orang-orang seperti keluarga saya, bukan dengan kekuatan uang atau koneksi, tapi dengan kebenaran yang benar-benar dicari sampai tuntas, bukan sekadar diasumsikan."

Lihat selengkapnya