KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #22

KOPERASI KALISUMUR

Sementara penyelidikan Wulan terus berjalan, sesuatu yang lain mulai bergerak di Kalisumur, lebih pelan, lebih diam-diam, tapi menurut Danu, jauh lebih penting dalam jangka panjang dibandingkan siapa pun yang akhirnya ditangkap.

Malam itu, di balai desa yang biasanya hanya dipakai untuk rapat RT atau acara tujuh belasan, sekitar dua puluh kepala keluarga berkumpul atas undangan Danu dan ayahnya. Sebagian besar adalah pemilik kebun kecil yang selama bertahun-tahun menjual hasil panen mereka lewat gudang pengepulan Sedayu tanpa pernah benar-benar tahu berapa besar selisih yang diambil di tengah jalan.

"Saya tahu banyak dari kita masih takut," kata Pak Prasetyo, berdiri di depan ruangan dengan suara yang sedikit gemetar, bukan karena kurang yakin, melainkan karena ini pertama kalinya dalam hidupnya ia berbicara di depan begitu banyak tetangga soal sesuatu yang selama ini dianggap tabu. "Takut kena masalah, takut jadi sasaran kalau ternyata tuduhan terhadap gudang Sedayu tidak terbukti kuat di pengadilan. Tapi saya pikir, kita sudah terlalu lama menunggu orang lain menyelesaikan masalah kita. Sekarang saatnya kita coba cara lama, cara yang katanya pernah berhasil di sini, sebelum semuanya dikuasai satu gudang."

Seorang lelaki tua di barisan belakang, salah satu petani yang sudah bertahun-tahun menjual hasil panennya ke gudang Sedayu tanpa pernah mempertanyakan harga, mengangkat tangan. "Bagaimana kita yakin koperasi baru ini tidak akan berakhir sama saja? Nanti ada satu-dua orang yang lebih pintar, lebih licik, ambil alih lagi seperti dulu."

"Itu pertanyaan yang bagus, Pak," jawab Danu, mengambil alih dari ayahnya. "Makanya kita rancang aturan main dari awal, bukan cuma percaya pada niat baik satu orang. Setiap keputusan harga diambil lewat musyawarah, dicatat, dan siapa pun boleh memeriksa buku kas kapan saja. Tidak ada satu keluarga yang pegang kunci gudang sendirian."

Diskusi malam itu berlangsung panjang, kadang memanas, ada yang skeptis, ada yang mempertanyakan bagaimana modal awal akan dikumpulkan, ada pula yang khawatir soal hubungan dengan eksportir yang selama ini terbiasa berurusan langsung dengan gudang besar. Sekar, yang datang mewakili usahanya sendiri meski kedai bukan produsen kopi dalam skala besar, duduk di barisan tengah, mendengarkan dengan saksama.

"Saya cuma ingin bilang satu hal," katanya, ketika akhirnya diberi kesempatan bicara. "Selama tiga tahun menjalankan kedai, saya belajar bahwa orang lebih percaya pada kopi yang mereka tahu asal-usulnya. Kalau koperasi ini bisa menjamin itu, bahwa setiap kilogram yang dijual benar-benar berasal dari kebun yang tertera, dengan harga yang disepakati bersama, saya yakin itu bukan cuma soal keadilan buat kita di sini. Itu juga bisa jadi nilai jual yang kuat di luar sana."

Kata-kata itu, sederhana namun disampaikan dengan keyakinan yang tulus, tampak menggeser sedikit suasana ruangan, dari sekadar diskusi soal menghindari eksploitasi, menjadi sesuatu yang terasa lebih membangkitkan semangat, sebuah kemungkinan bahwa yang mereka bangun bisa jadi lebih baik dari sistem lama, bukan cuma alternatif yang lebih aman.

Lihat selengkapnya