KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #23

ANCAMAN KEDUA

Kabar itu sampai ke Wulan lewat telepon Farhan yang terburu-buru sekitar jam empat pagi, membangunkannya dari tidur singkat di rumah dinas yang atapnya masih menetes di beberapa sudut sejak hujan semalam. Ia baru saja tertidur sekitar satu jam, pikirannya masih penuh dengan percakapan bersama Sekar malam sebelumnya, ketika suara ponselnya yang berdering memecah kesunyian dengan kasar.

"Bu, gubuk Mbah Suto, ada yang masuk paksa semalam. Beliau baik-baik saja, tapi rumahnya berantakan, banyak barang dibongkar."

Wulan langsung terjaga sepenuhnya, seluruh rasa kantuk lenyap seketika. Ia berpakaian secepat mungkin, tidak sempat memasak air untuk kopi seperti biasanya, dan mengendarai motor dinas menembus kabut pagi yang masih pekat menuju gubuk kecil di ujung dusun.

Wulan tiba di lokasi kurang dari lima belas menit kemudian, mendapati Mbah Suto duduk di bangku bambu terasnya, selimut tipis membungkus bahunya, wajahnya lebih pucat dari biasanya namun matanya tetap tenang, ketenangan yang menurut Wulan lebih terasa seperti kepasrahan seorang tua yang sudah terlalu banyak melihat kehilangan, daripada benar-benar tidak terguncang.

"Saya dengar suara sekitar jam dua pagi," katanya, suaranya lebih serak dari biasanya. "Saya kira cuma angin, sampai saya dengar suara laci dibongkar paksa. Saya sembunyi di kolong dipan sampai suara itu hilang. Terlalu takut untuk keluar dan lihat siapa."

Wulan memeriksa gubuk kecil itu dengan hati-hati, peti kayu tua tempat Mbah Suto menyimpan barang-barang pribadinya sudah terbuka paksa, isinya berserakan di lantai tanah. Pakaian lama, foto-foto pudar, dan beberapa surat yang tersisa tercecer tanpa pola yang jelas, seperti seseorang mencari sesuatu secara terburu-buru tanpa sempat merapikan kembali.

Ia memperhatikan gerendel pintu depan yang dipaksa hingga bengkok, jelas dilakukan dengan alat tertentu, bukan sekadar didobrak dengan tenaga tubuh. Sesuatu yang menunjukkan bahwa siapa pun pelakunya sudah mempersiapkan diri sebelum datang, bukan tindakan spontan yang muncul begitu saja malam itu.

"Apa yang hilang, Mbah?" tanya Wulan, berjongkok di samping peti itu.

Mbah Suto menatap isi peti yang berserakan lama sebelum menjawab. "Sepertinya tidak ada yang hilang, Nak. Semua masih ada, cuma berantakan. Kecuali, " Ia berhenti, matanya melebar sedikit saat menyadari sesuatu. "Map kecil. Map berisi surat-surat asli yang saya tunjukkan fotokopiannya ke Nona Larasati waktu itu. Itu hilang."

Kabar itu membuat Wulan berdiri cepat, pikirannya langsung melompat ke kemungkinan yang paling jelas: seseorang yang tahu persis apa yang harus dicari, seseorang yang tahu bahwa dokumen asli itu ada di sini, bukan sekadar pencuri biasa yang mengincar barang berharga.

Lihat selengkapnya