KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #25

RAHASIA PRAWIRO

Kabar pembobolan gubuk Mbah Suto membuat seluruh tim penyelidikan bekerja dengan kecepatan yang berbeda sejak pagi itu, bukan lagi sekadar mengumpulkan bukti dengan sabar, melainkan berpacu dengan seseorang yang jelas sudah mulai panik dan bergerak agresif untuk menutupi jejaknya. Wulan menghubungi Rini di Surabaya sore itu juga, meminta agar semua dokumen yang tersisa dari kakaknya segera dibawa ke Kalisumur sebelum ada pihak lain yang mungkin mencoba mengaksesnya lebih dulu.

Rini kembali ke Kalisumur tiga hari kemudian, kali ini membawa kotak kardus penuh berisi dokumen tambahan yang ia temukan di apartemen kakaknya di Surabaya, laporan-laporan lama, korespondensi email yang dicetak, dan yang paling menarik perhatian Wulan, sebuah folder bertuliskan "PS, Kalisumur" yang isinya jauh lebih tebal dari yang pernah mereka lihat sebelumnya.

"Saya periksa lagi seluruh apartemennya, Bu," kata Rini, meletakkan kotak itu di atas meja pos ronda. "Kali ini saya cari lebih teliti, termasuk di balik lemari, di bawah kasur, tempat-tempat yang biasanya orang sembunyikan sesuatu yang tidak ingin ditemukan sembarangan."

Wulan dan Farhan menghabiskan seharian penuh memeriksa isi kotak itu, menyusun ulang gambaran yang jauh lebih lengkap tentang operasi Prawiro Sedayu selama bertahun-tahun, bukan hanya soal pencampuran kopi dan pemalsuan label, tapi jaringan yang lebih luas: pembelian kopi murah dari daerah Kayumas dan Bondowoso lewat perantara yang sengaja dirahasiakan, penyuapan kecil kepada beberapa pejabat kecamatan untuk memuluskan proses ekspor tanpa pemeriksaan ketat, dan yang paling mengejutkan, catatan transfer dana rutin ke sebuah yayasan sosial di kota kecamatan yang, setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata dikelola oleh kerabat dekat kepala desa Kalisumur sendiri.

Di antara dokumen-dokumen itu, Farhan juga menemukan beberapa lembar kop surat lama berlogo PT Nusantara Kopi Ekspor, tempat Broto dulu bekerja sebelum dipecat, kop surat yang, dari tanggal cetaknya, jelas sudah kedaluwarsa sejak enam bulan lalu, namun tetap ia simpan dan, menurut catatan tangan di pinggirnya, sesekali masih ia gunakan untuk membuat surat-surat "semi-resmi" yang memberi kesan bahwa ia masih mewakili perusahaan tersebut.

"Jadi dia benar-benar memakai nama perusahaan lamanya sebagai kedok," kata Farhan, geleng-geleng kepala. "Supaya orang-orang di daerah seperti Kalisumur percaya dia datang mewakili institusi resmi, bukan cuma individu yang mencari keuntungan pribadi."

"Itu menjelaskan kenapa dia begitu gugup waktu Sekar tanya soal nama perusahaannya," kata Wulan, menyusun kembali kop surat itu ke dalam map bukti. "Dia sedang berjalan di atas kebohongan yang bisa runtuh kapan saja kalau ada yang cukup teliti memeriksa."

"Ini bukan cuma soal kopi lagi, Bu," lanjut Farhan, menyusun dokumen-dokumen itu berdasarkan tanggal. "Ini jaringan yang cukup besar, melibatkan orang-orang yang seharusnya mengawasi, bukan cuma satu keluarga serakah, dan satu orang yang memanfaatkan kekacauan itu untuk keuntungannya sendiri."

Lihat selengkapnya