KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #26

SEKAR DAN DANU

Malam itu, setelah pertemuan yang menegangkan dengan Prawiro, Wulan menyarankan Sekar untuk beristirahat lebih awal, kedai bisa ditutup sedikit lebih cepat, katanya, mengingat betapa panjang dan melelahkan hari-hari terakhir ini bagi semua orang yang terlibat. Sekar menerima saran itu, mengunci pintu depan Kedai Embun Pagi lebih awal dari biasanya, dan mendapati Danu masih menunggu di teras, membawa dua bungkus nasi goreng dari warung dekat balai desa.

"Saya pikir kamu belum makan malam," katanya, agak canggung menyodorkan salah satu bungkusan itu. "Setelah rapat koperasi tadi sore, saya baru sadar sudah lewat jam makan."

Mereka duduk berdua di teras, ditemani cahaya lampu minyak kecil dan suara serangga malam yang bersahutan, menyantap nasi goreng dalam diam yang tidak canggung, jenis diam yang hanya bisa terbentuk antara dua orang yang sudah saling kenal sejak kecil.

"Danu," kata Sekar akhirnya, meletakkan sendoknya, "boleh saya tanya sesuatu yang sudah lama saya pikirkan?"

"Tentu."

"Kenapa kamu selalu ada, di setiap momen penting dalam beberapa minggu terakhir ini? Waktu saya butuh orang untuk diajak bicara soal biji kopi aneh itu, kamu yang pertama saya hubungi. Waktu saya jadi tersangka dan orang-orang mulai menjauh, kamu yang tetap datang setiap hari. Sekarang, koperasi ini juga sebagian besar karena kamu berani bicara duluan." Sekar menatapnya lurus-lurus. "Apa alasannya cuma soal pertemanan lama, atau ada sesuatu yang lain?"

Danu terdiam cukup lama, matanya menerawang ke arah kebun-kebun yang gelap di kejauhan, seperti sedang menimbang jawaban yang sudah lama ia simpan namun belum pernah berani ia ucapkan.

"Sejak kecil, saya selalu merasa Kalisumur ini rumah yang membosankan," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Kebun, kopi, itu-itu saja setiap hari. Saya sempat mikir mau merantau ke kota begitu lulus sekolah, seperti kebanyakan anak muda di sini. Tapi setiap kali saya pikir soal itu, saya selalu teringat satu hal yang bikin saya ragu pergi."

Lihat selengkapnya