KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #27

KEJARAN DI KEBUN

Sejak pertemuan tegang dengan Prawiro sore itu, Wulan merasakan sesuatu yang berbeda di udara Kalisumur, ketegangan yang tidak lagi hanya ada di antara dirinya dan para tersangka, melainkan menyebar ke seluruh desa, seperti setiap orang mulai menyadari bahwa kebenaran yang mereka cari sudah sangat dekat, cukup dekat untuk membuat siapa pun yang bersalah mulai bertindak nekat.

Malam setelah pertemuan itu, Rudi, yang sejak ditahan sementara diizinkan pulang dengan wajib lapor menunggu proses hukum atas kepemilikan bahan kimia terlarang, menghilang dari rumahnya tanpa pemberitahuan. Wati, istrinya, menelepon pos ronda dengan suara panik sekitar jam sembilan malam, mengatakan suaminya pergi tergesa-gesa setelah menerima telepon singkat, tanpa penjelasan, hanya berkata "aku harus urus sesuatu" sebelum menghilang ke dalam gelap membawa senter kecil.

Wulan dan Farhan segera menuju perkebunan Sedayu, menduga Rudi mungkin kembali ke gudang untuk alasan yang tidak mereka ketahui pasti, entah untuk menghilangkan bukti tambahan yang belum ditemukan, entah untuk alasan lain yang lebih pribadi. Mereka menemukan motor hitam Rudi terparkir di pinggir jalan setapak menuju gudang, mesinnya masih terasa hangat.

Perjalanan menuju gudang di tengah malam itu terasa berbeda dari kunjungan mereka sebelumnya di siang hari. Barisan pohon kopi yang biasa terlihat rapi dan tenang kini berubah menjadi labirin bayangan, cabang-cabangnya bergoyang pelan diterpa angin malam yang dingin, dan suara langkah kaki mereka sendiri di tanah berbatu terasa jauh lebih keras daripada seharusnya di tengah kesunyian yang mencekam.

"Pak Rudi!" teriak Farhan, menyorotkan senternya ke arah barisan pohon kopi yang gelap gulita, hanya diterangi cahaya bulan yang samar-samar menembus kabut tipis malam itu.

Tidak ada jawaban selain suara serangga malam dan desau angin di antara daun-daun kopi. Wulan memberi isyarat kepada Farhan untuk berpencar, masing-masing menyusuri jalur berbeda di antara barisan pohon yang rimbun, senter mereka menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak aneh di tanah.

Wulan menemukan jejak kaki segar di tanah lembap dekat pintu belakang gudang, mengarah bukan ke pintu utama, melainkan ke sisi bangunan yang jarang digunakan, tempat tumpukan kayu bakar lama disimpan, cukup tersembunyi dari pandangan siapa pun yang tidak tahu persis ke mana harus mencari. Ia mendekat perlahan, mematikan senternya untuk menghindari terlihat lebih dulu, dan dari balik tumpukan kayu itu, ia mendengar suara isak tertahan seorang lelaki.

Lihat selengkapnya