Setelah membawa Rudi kembali ke pos ronda malam itu dan mencatat seluruh pengakuannya soal penyelewengan kecil yang ia lakukan selama tiga tahun terakhir, Wulan nyaris tidak sempat tidur sama sekali. Ia menghabiskan sisa malam menyusun ulang seluruh linimasa kasus ini dari awal, setiap keterangan saksi, setiap dokumen, setiap kebohongan kecil yang satu per satu mulai terkuak, mencoba menemukan pola yang selama ini luput dari perhatiannya.
Keesokan paginya, sebelum Wulan sempat menyusun ulang seluruh keterangan baru dari Rudi menjadi teori yang koheren, seorang utusan dari rumah besar Sedayu datang ke pos ronda membawa pesan singkat: Prawiro Sedayu ingin bertemu Wulan secepatnya, sendirian, tanpa pengacaranya.
Wulan menemuinya di ruang kerja yang sama, kali ini tanpa map-map tua yang biasa memenuhi meja, tanpa buku catatan rahasia yang selama berminggu-minggu menjadi pusat penyelidikan mereka. Ruangan itu terasa kosong, hampir seperti sudah dikosongkan dari segala hal yang selama ini menopang kekuasaan Prawiro di Kalisumur.
"Terima kasih sudah datang, Bu Detektif," katanya, suaranya jauh lebih tenang dibandingkan pertemuan terakhir mereka, ketenangan yang menurut Wulan terasa aneh, seperti ketenangan seseorang yang sudah membuat keputusan besar dan tidak lagi punya sesuatu untuk ditakutkan.
"Anda bilang ingin bicara sendirian, Pak Prawiro. Saya di sini."
Prawiro menatapnya lama, kemudian menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti melepaskan beban yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian. "Saya yang membunuh Broto Handoyo, Bu Wulan."
Kalimat itu, sesederhana dan setegas itu diucapkan, membuat Wulan terdiam sejenak, menatap lelaki di depannya dengan kewaspadaan yang jauh lebih tajam daripada sebelumnya. "Jelaskan," katanya akhirnya, suaranya datar, menyembunyikan kejutan yang sebenarnya ia rasakan.
"Saya yang mencampurkan racun itu ke dalam stok kopi, dini hari sebelum dia meninggal. Saya yang mengantarkannya sendiri ke pintu belakang kedai Sekar sebelum subuh, memakai jaket Rudi supaya kalau ada yang melihat, kecurigaan akan jatuh padanya, bukan pada saya." Prawiro bicara dengan lancar, terlalu lancar, seperti seseorang yang sudah menghafal kalimat itu berkali-kali sebelum benar-benar mengucapkannya. "Saya panik mendengar Pak Broto akan melapor ke asosiasi eksportir. Saya pikir, kalau dia mati sebelum sempat melapor, semua akan aman."